ambon manise

Konflik Ambon, 10 tahun yang lalu

Sepuluh tahun yang lalu, 1999, Ambon membara. Masih ingat? Kejadian itu mengagetkan kita. Di sebuah bangsa yang katanya ramah bisa pecah perang terbuka yang kental dengan sentimen perbedaan agama. Seakan perang palestina – israel menjadi begitu dekat di sebrang pulau.

Ambon menjadi medan perang. Segregasi yang telah berlangsung lama, perlahan-lahan benihnya tumbuh sejak tahun 1970an, akhirnya meledak. Dan hari-hari itu semakin mengental, mengeras. Obet lawan Acang. Ikat kepala merah lawan ikat kepala putih. Silih berganti rumah ibadah diserang. Sekian masjid dihancurkan, hingga saatnya balasan dilakukan, gereja-gereja pun berakhir sama. Jauh bertahun-tahun sebelumnya kampung muslim dan kampung kristen memang selalu terpisah. Dan pada saat itu pemisahan itupun menjadi pembatas yang sangat jelas akan wilayah kendali dan pertahanan masing-masing.

Hari-hari itu panasnya memang terasa begitu meluas. Kabar berita kekerasan menyebar begitu cepat, foto-foto pembantaian beredar di media, sampai ke mailbox kita, menggelisahkan dan memancing amarah. Persis seperti hari-hari ini yang kita saksikan dari Palestina. Seruan jihad menggema dari mana-mana. Terdengar dan bergaung begitu kuat hingga di kampus-kampus. Dan nyata, berangkatlah dari berbagai tempat di indonesia para sukarelawan itu, juga dari kampus ITB.

Di tahun 1999 itu, tak bisa disangkal, pertanyaan yang sangat menggelisahkan itu pun mengusik saya. Haruskah saya berangkat ke Ambon? Pantaskah saya tetap di bandung, menikmati nyamannya kampus setiap hari sementara di sana api membara? Apakah tersedia sebab, alasan, keharusan yang layak untuk saya tetap ada di bandung. Apakah saya harus berangkat?

Bukan pertanyaan mudah. Apalagi saya menyaksikan sendiri beberapa rekan saya berangkat ke Ambon. Mereka tinggalkan kampus sekian bulan lamanya. Menyatu dengan saudara-saudara di Ambon. Sebagian pulang, ada juga yang menjemput syahid di sana. Uuh Muhdi Zaini, teman saya di Asrama Sangkuriang (rumah H) ITB, berangkat untuk kemudian kembali. Sementara Cecep Sumantri, ia berangkat untuk syahid di sana. Ia mahasiswa Fisika angkatan 98.

Tiga tahun lebih konflik itu berlangsung. Membuat siapapun yang peduli dan benar-benar menginginkan penyelesaian menjadi frustasi. Sungguh. Apalagi mereka yang berada di tengah-tengah api membara itu. Tiga tahun lebih. Sampai kemudian api amarah itu perlahan redup ditiup waktu, dan akal sehat pun perlahan menyadarkan bahwa mereka membutuhkan perdamaian. Sampai kemudian hati mereka sudi kembali untuk berkata “Kitorang Basudara”.

Seperti yang terjadi jauh di timur tengah sana, di dekat kita pun pernah terjadi peristiwa yang menyerupai. Konflik yang begitu keras, panas, menimbulkan ribuan korban dan membekaskan luka yang dalam. Mengajak kita menyelam dalam merenungi kadar kemanusiaan bangsa kita, dan umat manusia seisi dunia. Mencetuskan pertanyaan, gugatan, dan sekian kali kegamangan. Membuat kita berfikir ulang tentang seberapa kekuatan nurani kita, seberapa dewasa mental kita, seberapa murni fitrah dan kesadaran kemanusiaan kita, yang akan menentukan seberapa kemampuan kita menciptakan madani di indonesia.

Dan bahwa pada akhirnya perdamaian bisa mereka hadirkan kembali, semestinya menggugah nurani kita untuk mengambil pelajaran. Bagaimana pun juga, dalam perbedaan-perbedaan manusiawi kita semestinya tetap dapat hidup berdampingan. Jika saya tidak salah, itulah madani.

20 gagasan untuk “Konflik Ambon, 10 tahun yang lalu”

  1. Assalamualaikum

    Apa kabar nih kang firman? Semoga baik-baik aja…
    Kemarin ngobrol sama teman yang tinggal di Ambon. Ternyata konflik di ambon itu akibat intimidasi dari oknum TNI. Sepertinya ada kepentingan bisnis… Perdamaian itu terjadi setelah oknum2 yang bermain itu ketahuan. Alhamdulillah sekarang mereka jauh lebih dekat (antara orang Islam dan Kristen).

    Salam
    Fendrri BI99

  2. Bukan dekat lagi mas fendrrii

    Tapi sangad dekat..

    bahkan udah bisa di bilang BAKU SAYANG (Saling sayang)

    Liad BLOGkuw,,,, N liadd,,, Foto2 Ambon skRg,,,,

    hehehheh

  3. semoga ambon kondusif seperti dulu, kota kelahiranq yang tercinta..10 tahun sudah meninggalkan ambon gara2 kerusuhan yang lalu..suatu saat aq pasti kembali untuk memeluk teman2q disana..

  4. Kecuali konflik ambon aku suka yg berbau ambon. Pisang ambon, bika ambon, nyonk ambon. Maseh ada lagi ga’ ya…? Oh iya.! Peace ambon.

  5. halo sob, sy keturunan ambon dan sy mengalami peristiwa itu,kalo inget2 suka sedih rumah habis terbakar kehilangan sanak and saudara juga teman2 , ayo pererat tali persaudaraan diantara kt, pela gandong hrs dijunjung tinggi, ayo ambon manggurebe maju…

  6. Salam..
    Kalau boleh tau, jasad tmn anda dibawa pulang k’bandung apa ngga ??

    Iya.. Pasti ada yang memprovokasi musibah ini untuk kepentingan mereka yang berhati iblis.

  7. setelah 3 tahun tugas di ambon, aku jadi yakin mereka menginginkan perdamaian, untuk apa punya agama jika hanya membuat kita bertengkar, agama tidak mengajarkan itu, berarti kijadian itu hanya ulah tangan-tangan tak bertuhan yang memboncengi agama

  8. Bos … yang bikin Kacau justru orang2 yang di luar ambon. Mereka semua adalah Pengacau alias penakut bin pengecut.. yang bikin damai adalah orang2 asli dari Ambon

  9. Hm, TNI bermain ya ? Seperti yang ditulis oleh Bang George Aditjondro dong, berhubungan dengan bisnis gelap militer, sekaligus penegasan supremasi AD atas POLRI. Atau, legitimasi KODAM.

    Wah, untung ya, dulu nggak jadi masuk TNI ^_^

  10. Indonesia memang negara yang banyak beragam suku,agama dan budaya. Meskipun beragam agama,kita harus saling menghargai dan menghormati. Alngkah indah nya kita saling bersatu untuk Indonesia yang indah.

  11. Ass. Wr . Wb.Teman, dari semua kejadian diambon yang terpenting bagi kita adalah bagaimana kita dapat bersatu dan dapat menelaah semua perkembangan sosial yang terjadi disekitar kita. Ambon yang begitu manis sebelum kerusuhan saya pernah berfikir mungkin hanya diambon yang mempunyai toleransi agama yang begitu ruaaaaaar biasa. Salah satu contoh disaat orang muslim bangun masjid orang nasrani berbondong-bondong membantu begitu juga sebaliknya bahkan saya sempat terkagum2 pertama kali lebaran diAmbon, teman2 nasrani semuanya datang kerumah bahkan sebelum lebaran mereka mengantar minuman soft drink, kue tar, ayam, mereka bilang untuk persiapan lebaran sampai segitunya kerukunan kami waktu itu. kini telah delapan tahun kutinggalkan ambon semoga ambon tetap manis “katong samua basudara jang lia suku deng agama, mari katong bangun ambon tercinta biar beta bukang orang ambon asli tapi hati beta terlanjur cinta ambon, ambon manis,ambon manis, manis lawangeeeeeeee” Wassss

  12. Jadi kesimpulannya, konflik di Ambon itu bukan murni konflik agama, ya.

    Bisa nggak kita gunakan pola pikir yang sama untuk mencoba memahami berbagai konflik di tempat-tempat lain yang umumnya dipandang sebagai konflik agama? Biar kita bisa benar-benar sampai pada root cause-nya.

    Soalnya, obrolan saya dengan temen-temen yang asalnya dari berbagai negara tentang terorisme juga, pada akhirnya sampai pada kesimpulan kalo terorisme yang semula disangka bermotif religius ternyata punya motif lain, yaitu motif ekonomi dan politik.

  13. mas julian, tak ada tuh yg 100% konflik agama, belanda datang ke sini jg bukan krn agama, perang salib jug bukan 100% agama… krn sekarang tak ada nabi. tapi bagi org muslim akan menjadi masalah agama kalau ada penghinaan dan penodaan trhadap agama.
    toleransi bg org Islam itu prinsip bukan basa-basi, menghancurkan gereja itu dilarang, menghina agama lain jg dilarang. membunuh org lain agama bukan krn mslh agama jg hukumnya sama dg membunuh sesama muslim.
    tapi kpd siapapun yg melakukan atau cuma membela penindasan/penghinaan atas muslim mereka akan menjadi musuh umat islam (muharrob), kalau umat islam kuat dan ada konflik antar non muslim kemudian minta pertolongan kpd muslm jg siap membantu…sprt Panglima Amr bin Ash, Throriq bin Ziyad dll.

  14. Benar…konflik Ambon bukan Konflik Agama, karena tak ada sejarahnya agama membuat perang. Disini ada kepentingan besar yang bermain dan saya pernah membaca ada kepentingan politik juga.

    Perang Salib I & II juga bukan perang agama, karena sebenarnya kepentingan ekonomi dan bisnis negara kuat dan mereka mempergunakan agama agar memperoleh dukungan dari berbagai negara.

    Karena itu harusnya mulai sekarang kita sadar dan mampu berpikir dengan akal sehat untuk melihat setiap kejadian atau peristiwa yang bisa digunakan sebagai alat serta permainan politik.

    Ingat…rakyat jangan mau lagi jadi korban…Kitorang Semua Basudara…

  15. sallam…
    saya adalah seorang yang tumbuh dan menjadi dewasa di tengah konflik agama itu mencuat, bahkan saya sendiri sempat terlibat dan mewarnai konflik tersebut (Lantaran alasan agama) tapi seiring waktu saya jadi sadar, bahwa yang menyebabkan konflik di ambon terjadi adalah bukan karena orang Maluku, namun pihak Pemerintah pusat yang melanggengkan konflik tersebut. Hal ini lantaran pemerintah pusat takut jika Maluku menuntut kemerdekaan, adapun alasan orang maluku untuk merdeka dari NKRI lantaran ketidak adilan yang diberlakukan pemerintah pusat sendiri. Kita boleh menakar, selama ini Maluku elah memberikan sumbangan devisa (perikanan dan pertambangan) yang begitu besar, namun apa balasan pemerintah pusat bagi kami orang Maluku??????

    Oleh sebab itulah pemerintah mengobrak-abrik Maluku dengan menyebarkan konflik agama antara saudara kami (Islam dan Kristen), NKRI telah mengorbankan ribuan nyawa orang Maluku demi mempertahankan Kedaulatannya.

    Sebenarnya saya pikir Pemerintah pusat sangat kejam dengan langkah dantindakan yang diambil.
    Bukankah untuk mencegah desintegrasi itu terjadi, cukup dengan kesejahteraan dan keadilan yang merata???

    Untuk saudaraku yang muslim maupun kristen, DENGAR KATA HATI KITA BAHWA DARI TEMPO DULU KITA ADALAH KAUM YANG MENJUNJUNG TINGGI NILAI-NILAI KEBERSAMAAN.

    ALE PUTONG DI KUKU, BETA RASA DI DAGING.

    PEACE FOR MOLUCCAS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s