Uang, Kuasa, dan Nurani

Perhelatan besar itu sudah selesai. Keriuhan pemilihan ketua ikatan alumni ITB yang telah meramaikan ganesha untuk sekitar dua bulan lamanya, sejak awal bulan puasa kemarin.

Aku sendiri telah terlibat dari awal. Ketika itu aku memilih untuk bergabung dengan tim Sang Kandidat Utama. Bukan karena niat oportunis. Bukan. Hanya karena itulah tim yang paling mudah aku akses. Di tim itulah aku lihat terbuka kemungkinan yang paling besar untuk aku diterima bergabung di dalamnya. Karena di sana ada beberapa orang yang aku kenal baik, ada temanku, dan terbukti belakangan membawa semua rombongan tempat kerjaku kedalamnya.

Dan ternyata memang tidak sulit jadinya untuk aku bisa masuk ke dalamnya. Di ajak temanku sesama angkatan 97. Semula aku merasa ini akan jadi tempat baru yang menyenangkan. Disana memang kulihat ada sekumpulan orang-orang baik. Maka aku pun semangat bekerja. Dan sejujurnya aku sangat ingin menunjukkan bahwa aku bisa bekerja dengan baik, lebih baik bahkan. Semacam motif pembuktian diri.

Akan tetapi seiring waktu, kultur oportunistik di perhelatan-perhelatan semacam ini mulai mucul. Orang-orang oportunis yang sejak awal memang sudah ada, semakin kemari semakin banyak.. dengan tingkahnya sendiri-sendiri. Ada yang jadi penjilat, ada yang jualan massa, ada yang membual dan bahkan bisa dikatakan berbohong dengan janji-janji kosong..

Kenyataannya sang kandidat pun seperti memberi ruang dan tidak menganggap kelakuan seperti itu adalah masalah. Mungkin dia berpikir, selama mereka memang bisa membantu, hal seperti itu tak apalah. Bahkan di satu kesempatan, dia pun bertindak senada.

Dan kemudian aroma kucuran uang pun mulai tercium. Di tambah satu dua cerita yang muncul dari sekelilingku.. mulai mempengaruhi pandanganku akan semua kesibukan ini. Dan itu mempengaruhi semangatku untuk bekerja.

Dalam suatu kesempatan setelah lebaran.. di sore hari tepat ketika malamnya aku akan berangkat ke semarang.. aku mendapatkan momen istimewa. Di ajak makan, katanya bareng sang kandidat. Meski aku sempat menolak, akhirnya aku ikut. Temanku memaksa.. dan meyakinkanku bahwa ini tidak akan lama. Maka berangkatlah kami berempat menyusul rombongan sang kandidat.

Setiba disana aku baru tahu bahwa makan-makan ini bisa dikata eksklusif. Totalnya hanya ada 12 orang dalam sebuah ruangan yang mungkin hanya untuk 10 orang. Sesaat terjadi pergeseran tempat duduk karenanya.., hingga tau-tau aku duduk di sebelah sang kandidat. Sebuah posisi yang menarik. Dari situ aku bisa melihat sang kandidat lebih dekat. Lebih banyak.

Tapi aku memang tak pernah suka dan tak pernah bisa untuk bersikap dan berkata-kata manis jika ada di posisi seperti ini. Aku tidak bisa beramah-ramah karena kenyataannya aku memang tidak dikenal baik oleh sang kandidat. Aku tidak suka mencari-cari bahan obrolan, atau menunjukkan sikap pengakuan atas superioritasnya, sehingga akhirnya aku diam saja dan tenang sambil makan.

Tak lama aku dalam posisi itu. Sang kandidat dan teman-teman dekatnya yang memang telah makan lebih dahulu dari kami hendak beranjak pergi untuk melanjutkan jadwal mereka. Tampaknya begitu. Dan akhirnya tersisalah kami berlima, menghadapi meja makan besar dengan hidangan yang begitu banyak. Sebagiannya telah habis, dan sebagiannya yang lebih banyak masih bersisa—dan tampaknya akan terbuang karena kami telah dipesankan makanan yang lain. Memang, tak mungkin bagi mereka membuat kami makan sisa-sisa pesanan mereka. Sekian makanan itu memang jatah mereka. Dan kami yang makan terakhir dipersilahkan menentukan sendiri jatah makanan kami.

Dan itulah yang membuatku berfikir. Begitu banyak makanan yang mereka pesan diawal. Sehingga ketika mereka telah puas dan beranjak pergi.. begitu banyak yng masih tersisa. Dan dari situlah aku berfikir lagi.. beginikah pola makan seorang pejabat negeri..?

Beginikah pola hidup seorang pejabat negeri..? Aku tahu restoran ini bukan restoran paling mahal di bandung. Tapi untuk sebuah makan siang yang singkat di tengah kesibukan, yang jadinya hanya memilih tempat yang alakadarnya bagi mereka.., maka saya jadi heran dengan standar alakadarnya mereka itu. Dan kenyataan begitu banyak makanan yang tak habis..

Berapa banyak uang yang dihabiskan untuk sekali makan ini..? Sebuah kesempatan makan yang sangat biasa baginya yang pasti membuatnya terlupakan tak pernah diingat.. Maka jika ketika itu dihabiskan uang sekitar lima ratus ribu.. maka uang sebesar itu adalah jumlah uang yang bisa disebut “sangat biasa dan layak dilupakan” baginya.

Beginikah hidup seorang pejabat negeri..? Jika begitu, maka tak heran jika bangsa ini seperti ini. Bagaimana kepekaan nurani itu tidak jadi tumpul jika seperti ini polanya. Entahlah, mungkin dia sanggup.. yang pasti saya tidak sanggup mempertahankan hati saya jika setiap hari seperti ini.

Bukankah di sekitar dago ini begitu banyak orang-orang yang setiap hari mengais makanan sisa? Sampah-sampah yang telah dilupakan orang…?

Hingga selesai makan.. aku memikirkan hal ini.., hingga beberapa jam dan hari setelah itu, hingga aku menyimpan pikiran itu untuk diriku sendiri. Hanya sesekali aku membicarakannya dengan sedikit teman dekatku.

Pekerjaan pun berlanjut. Dan hari demi hari aku semakin melihat banyak. Bagaimana uang digelontorkan begitu deras.. jumlah-jumlah yang sangat tidak sedikit.. jumlah-jumlah yang sangat banyak. Untuk berbagai kegiatan.. yang terkadang bermanfaat dan berlangsung baik.. dan berbagai kegiatan yang tampak jelas tidak bermanfaat dan sama sekali tidak berlangsung baik. Benar-benar sebuah parade penghamburan uang. Puluhan dan ratusan juta rupiah.

Semakin hari, apa yang aku saksikan semakin membunuh semangatku. Hingga saatnya aku merasa aku bukan lagi bagian dari semua kerja ini. Aku tidak bisa lagi menjadi bagian dari semua kerja yang seperti ini. Begitu banyak uang yang dihamburkan. Begitu banyak pemborosan. Begitu banyak kemubaziran. Maka aku bukan lagi bagian dari semua ini.

Hingga tibalah harinya. Hari besarnya.
Di hari itu aku menyaksikan kekuatannya yang tidak tertandingi oleh kandidat lainnya. Berbagai baligho besar-besar terpampang di sekian titik di sekeliling ganesha. Pusat-pusat pengumpulan massa dengan tenda-tenda, kursi-kursi, dan hidangan-hidangan gratisnya yang begitu banyak. Lengkap dengan berbagai atribut.. kaos-kaosnya, pin, leaflet, rompi, dan masih banyak lagi.

Berapa banyak uang yang digelontorkan hari ini? Sungguh, begitu besar kelihatannya. Ratusan juta mungkin untuk satu hari ini. Ratusan juta mungkin. Yang akan segera menguap bahkan sebelum hari ini berganti.

Dan memang kekuatan itu tak terbendung. Sang kandidat akhirnya meraih apa yang diinginkannya. Dialah yang terpilih. Di hari itu, akhirnya tampak jelas bahwa kandidat yang lain hanyalah pelengkap. Setelah sekian lama tampak sebagai pesaing. Sungguh, hanya pelengkap. Bahkan ketika mereka telah berusaha menyaingi dengan begitu gigih. Bahkan setelah mereka sempat membumbungkan aroma persaingan yang cukup kuat ke atmosfer. Hari itu, tampak dengan jelas, melalui angka raihan suara, sebuah parameter yang objektif dan satu-satunya, bahwa mereka hanyalah pelengkap.

Maka, perhelatan besar itu pun selesai. Keriuhan yang telah meramaikan ganesha untuk sekitar dua bulan lamanya ini telah dituntaskan sebagaimana “seharusnya”. Sang kandidat pun bertahta. Selanjutnya seperti apa, belum ada yang tahu.

Keikutsertaanku di dalam tim suksesnya mungkin pada akhirnya masih menyisakan manfaat buatku. Setidaknya karena akan memudahkanku untuk segera ikut terlibat dalam kerja-kerja awal keperngurusan yang baru dari ikatan alumni ini. Sebuah kerja yang sesungguhnya. Kerja-kerja yang memang sejak awal aku minati. Kerja mewujudkan program, melayani anggota, merealisasikan janji-janji. Kerja-kerja yang tulus tanpa ada tendensi dan vested interest. Bukan kerja memenangkan seseorang, mengalahkan yang lain, menjual dan mengelu-elukan seseorang. Bukan tempat orang-orang oportunis. Tempat bagi yang sungguh-sungguh ingin memberikan sesuatu. Setidaknya itulah niat yang ingin aku tumbuhkan.

Entahlah. Bagaimana pendapatku tentang uang yang telah memenangkan sang kandidat. Bagaimana jumlahnya yang begitu besar hingga melebihi satu milyar, yang habis dalam rangkaian keriuhan yang tidak terlalu berarti apa-apa bagi mereka yang papa. Uang yang seakan menguap begitu saja sementara begitu banyak di sekitarnya orang-orang yang kelaparan dan bisa dikenyangkan dengan itu. Hatiku masih tidak bisa menerima itu. Tidak akan pernah memang. Aku hanya bisa menengaskan bahwa aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu.. terlibat dalam hal seperti itu.

Adapun saat ini.. ketika aku akan melibatkan diri kembali dengan tim ini, untuk muwujudkan program-program yang lebih nyata.. semoga bukanlah sebuah tindakan yang cacat moral. Bukan sebuah tindakan oportunistik. Aku hanya ingin terlibat dalam kerja-kerja sosial membangun komunitas besar bernama ITB. Itu saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s