saya dan hidup yang penting

Hari kamis pekan lalu, saya dapat kesempatan untuk diskusi hangat dengan anak-anak SPED di SMA 3 Bandung. SPED ini ekstrakurikuler debat, seperti FDI di SMA 3 Semarang sekolah saya dulu. Dan karena FDI adalah ekstrakurikuler yang telah membentuk karakter saya, maka kesempatan diskusi dengan anak-anak SPED itu menjadi istimewa untuk saya. Untuk itu saya harus berterima kasih sama Jaka, teman saya di ITB, angkatan 2004, yang mengajak saya kesana.

Ini adalah kesempatan yang kedua. Minggu yang sebelumnya lagi saya sudah ikut [dan tampaknya memang akan terus ikut di setiap hari kamis]. Dan untuk kali ini saya diminta untuk memimpin diskusi. Maka saya pun mengajak mereka memikirkan dirinya masing-masing, dan berusaha menjawab pertanyaan sederhana : siapa saya? Dan apakah saya penting? Mereka meminta saya pun menjawab pertanyaan itu. Maka inilah jawabannya.

Siapa saya..?

Saya seorang manusia. yang merdeka dan berpusat pada nilai dan prinsip kehidupan. Saya tegas dalam prinsip, meyakininya, sepenuh hati dan setia menjalaninya, rela berkorban untuknya. Saya senang bertualang, melihat dunia, berusaha memahaminya dengan bijak, menulisnya sebagai pengalaman berharga, untuk kemudian berbagi.

Saya memandang kehidupan sebagai masa mencari, memahami, lalu mengabdi. Saya menjelajahi hidup dengan mata seorang anak-anak, dan mengabdi di dalamnya dengan tangan dan jiwa seorang dewasa. Maka saya menjalani hidup dengan berani dan penuh semangat.

Saya sangat menghargai, menerima, bersyukur, dan bahagia dengan diri saya yang unik. Saya menghargai orang lain dengan cara berusaha memahami mereka juga sebagai diri yang unik.

Bagi saya, yang terpenting untuk ”dikenali” adalah Tuhan, dan yang terpenting untuk ”dipahami” adalah manusia. Dan hidup adalah jalan kebijaksanaan untuk seimbang diantaranya.

Apakah saya penting..?

Hidup sayalah yang penting. Hidup ini. Di dalamnya saya merasa memiliki amanat untuk menciptakan kebaikan di tengah masyarakat. Itu juga karena saya rasa, saya tahu betul apa potensi terbaik saya, apa jalan pengabdian saya, apa yang bisa saya lakukan untuk masyarakat. Maka hidup ini bagi saya artinya adalah ”Mensyukuri segala anugrah Tuhan dengan cara melakukan yang terbaik yang saya bisa untuk orang lain, untuk masyarakat”. Maka jika dikatakan ’saya penting’, itu karena saya adalah manusia yang menyadari apa tugas dan amanah saya di tengah masyarakat, di tengah dunia ini. Saya penting karena saya menerima kesadaran itu, dan memiliki keinginan untuk mewujudkannya. Dan ketika kesadaran itu terwujud dalam tindakan dan disiplin hidup.. maka Insya Allah diri ini menjadi penting bagi masyarakat yang saya hidup di dalamnya.

Begitulah jawaban saya.

Wajar jika pertanyaan itu menjadi sulit untuk sebagian mereka. Saya pun menjadikannya sebagai bahan diskusi kali ini karena saya sudah diberi kesempatan untuk berhadapan dengan pertanyaan itu sejak lama, sejak saya seusia mereka, bawah 20 tahun. Dan saat ini bahkan saya hampir 29 tahun.

Kabar gembiranya, sebagian besar dari mereka, walaupun belum merumuskan jawaban yang dalam, telah mampu merasakan esensi pertanyaan ini, dan secara intuitif telah menemukan jalannya untuk sampai ke jawaban yang otentik. Begitulah, saya sangat menyukai anak-anak muda yang cerdas, kritis, dan bersemangat. Seperti mereka. Seperti rekan-rekan saya di organisasi yang sama dengan mereka, FDI. Maka itu menjelaskan mengapa saya selalu senang berkumpul dengan anak-anak muda seperti mereka. Saya membutuhkan semangat-semangat itu.

Iklan

2 tanggapan untuk “saya dan hidup yang penting”

  1. Sedikit berbagi pengalaman juga nih. Kebetulan hari sabtu yang lalu saya juga berkesempatan untuk mengunjungi sekolahku tercinta, SMUN 3 Bandung. Rupanya sudah banyak yang berubah.

    Ceritanya saya diajak untuk bersua dengan anak2 Literatur, sebuah ekskul, yang saat itu sedang melaksanakan diklat untuk anggota baru. Literatur, atau yg sekarang lebih dikenal dengan nama Lite, adalah ekskul yg dibentuk di angkatanku ketika saya kelas 3. Waktu itu saya ikut serta, atau tepatnya ‘dipaksa’ untuk ikut serta, dalam pembentukannya. Lite dibentuk untuk melahirkan siswa2 yg kritis, punya kerangka berpikir dan memiliki budaya membaca dan berdiskusi.

    Sebetulnya kami, angkatan pendiri, tidak menyangka kalau Lite ini masih eksis. Saya beberapa tahun ini jarang ke SMU. Baru awal tahun lalu saya tahu kalau Lite ini masih bernafas.

    Lucunya, dulu itu Lite ddirikan oleh orang2 yg kebanyakan aktivis rohis, dan semuanya ikhwan. Nah, sabtu kemarin, ketika saya bertemu dengan anak2 Lite, saya jadi takjub karena rupanya saat ini Lite tidak punya satu pun anggota laki2, semuanya perempuan! Dan jangan dibayangkan perempuan yg dimaksud adalah ‘akhwat’ dlm arti wanita berkerudung, bukan! Wong ketuanya saja sama sekali tidak pake kerudung, ha3…

    Tapi saya bukan mau membahas itu. Lite rupanya masih belum menemukan bentuk, masih terombang-ambing antara dua identitas yang belum mereka pahami. Sebagai komunitas literer, Lite masih belum bisa membedakan dirinya dengan M3 (Mading 3). Sementara, sebagai komunitas diskusi, Lite bingung :apa bedanya dengan SPED??

    Nah, maka di pertemuan kemaren saya bicara panjang lebar bahwa menulis dan berbicara bukanlah aktivitas inti kita. Adanya komunitas Lite ini adalah sebagai wadah pembelajaran bagi anggota-anggotanya. Maka, menulis dan berbicara hanyalah sebuah medium untuk menjalani pembelajaran tsb.Oleh karenanya, secara filosofis, aktivitas literasi hanya akan berguna jika membuat perubahan bagi hidup kita di kemudian hari, yaitu perubahan yg terjadi setelah kita memahami diri kita sebagai manusia, posisinya di alam semesta, dan keterkaitannya dengan kehidupan.

    Barangkali ke depannya memang harus ada pengembangan lebih lanjut. Kami para alumni juga sudah berazam untuk melakukan mentorship. Barangkali kelak Lite akan berkolaborasi dengan SPED untuk merintis gelombang baru di SMU : gelombang massa siswa kritis yang berpikir.

  2. Walah Mas Firman, mbahas topik buat anak SMU kok beratnya minta ampun….! Boro-boro mikirin hidup, mikir abis SMU mau kemana juga binun. Hehehe.

    Tapi gpp ding. Dulu tahun 2000, waktu ALSTE ngadain pameran pendidikan, aku juga nulis topik kayak gitu di pengantar bookletnya. Hehehe.

    Ngomong2, walaupun aktif di SPED, jangan lupa nongol di milis FDI lho. Kalo nggak, aku cemburu :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s