di perbukitan padalarang

foto di atas baru sehari terpasang. rasanya itu foto yang paling mewakili untuk blog catatan perjalanan ini. dan foto itu memang diambil ketika sedang jalan-jalan ke padalarang di bulan agustus lalu.

alhamdulillah ada catatannya juga perjalanan ke padalarang itu. dibawah ini.

Sekian tahun lalu, di perjalanan menuju Jakarta, saya menyaksikan pemandangan indah beberapa kilometer setelah Stasiun Kereta Padalarang. Hamparan sawah yang luas menghijau, dengan petak-petak berundak di punggung perbukitan. Pagi ini, kami hendak ke sana.

Sengaja memilih hari kerja. Melepaskan diri dari rutinitas pada waktu puncaknya akan memberikan rasa bebas yang benar-benar memuaskan. Itu yang kami cari dari perjalanan ini. Namun, tidak begitu awalnya. Beberapa urusan menahan kami. Setelah memacu motor di jalan raya yang sibuk, hingga razia polisi pun tak digubris, barulah kami tiba di Stasiun Hall Bandung. Suasana cerah dan santai menyambut. Toh kami masih harus berlari.., tiket belum di tangan. Hanya setelah sampai di peron, dan mendapat tiket yang harganya cuma seribu rupiah, kami bisa bernafas lega meski masih terengah-engah.

Seiring nafas tenang kembali, kami masuk ke dalam stasiun. Suasana yang sangat kontras kemudian menyergap. Tempat ini begitu lengang dan tenang, seakan waktu berjalan lebih lambat. Para penumpang begitu tenang menunggu kereta, seakan dalam hidup mereka waktu sehari adalah untuk sebuah urusan saja… sehingga tersedia cukup waktu untuk menjalani, menjiwai, dan merenunginya di akhir hari.

Sementara saya terbiasa mengerjakan sebanyak mungkin urusan dalam sehari. Saya sadar sebenarnya, kalau kesibukan seperti itu sering menghilangkan ketenangan jiwa. Shalat pun kerap hanya untuk membayar kewajiban. Apakah semua itu ternyata hanya ekspresi kerakusan? Berapa banyak hikmah kehidupan yang terlewatkan di tengah semua kesibukan itu..

Lalu lamunan itu terhenti. Kereta yang ditunggu akhirnya tiba. Sebuah kereta diesel tua. Kursi yang tersedia menempel searah dinding, menyisakan ruang yang cukup lapang di tengah. Untuk seribu rupiah, fasilitas ini sudah cukup menyenangkan. Jika Anda naik angkot dari sini sampai Padalarang, pasti lebih dari sepuluh ribu uang yang terbuang.

09:05. Peluit masinis pun terdengar. Kereta ini mulai bergerak. Sedikit demi sedikit hentakannya pada rel semakin cepat, menciptakan irama khas laju kereta api. Perjalanan kami pun dimulai. Dalam sesaat, suasana kota mulai terganti dengan jajaran gubuk-gubuk di sepanjang tepian rel. Kumuh, sempit, beratap rendah. Maaf, tak lebih baik dari sebuah kandang. Sepertinya itu gubuk para pemulung. Terik matahari.. lengang jalur kereta.. dan jajaran gubuk pun menciptakan sepi.. sebuah dunia yang sepi.. yang tersisihkan.

Sejujurnya, saya terpana. Saya sering melihat perumahan padat dan kumuh.. di Lebak Siliwangi pun bisa kita saksikan, tapi tidak seperti ini. Ini bahkan bukan gubuk.. lebih buruk dari itu. Lalu saya tersadar.. di kereta ekonomi ini pun tampak begitu banyak sosok serupa. Manula yang mengemis, anak-anak yang mengamen dengan kecrekan.. segerombolan anak punk dengan badan kotor dan wajah kuyu. Mungkin selama ini mataku melihat tapi hati ini tidak. Mungkin selama ini aku berjarak dengan ini semua. Kehidupan di Ganesha tampaknya telah menciptakan jarak itu… Dan pikiran itu mengambang di benak seiring kereta terus berjalan.. melalui Ciroyom.. Andir.. Cimindi.. terus ke arah barat.

09:40. Cimahi sudah jauh terlewati… dan kereta mulai melambat, hingga akhirnya berhenti di Stasiun Padalarang. Dari sini kami masih harus berjalan beberapa kilometer menyusuri rel kereta. Tentu saja panas dan terik. Tapi toh kita yang hidup di Ganesha tidak sering merasakannya. Berbeda dengan mereka yang harus berpeluh dan terbakar terik setiap hari semata untuk bertahan hidup.

Setelah jauh, kami mulai menemukan persawahan. Senang melihatnya. Kami pun singgah di sebuah saung. Hanya sejenak saja. Bukan persawahan ini yang kami tuju. Perjalanan masih jauh. Sekian ratus meter kemudian kami melintas di bawah jembatan Tol Cipularang. Dari sini tampak petak-petak sawah yang berundak mengukir lereng. Tapi sawah-sawah itu kosong, sebagian sedang dibajak. Nun di kejauhan terlihat hamparan luas yang masih hijau. Kesanalah kami menuju.

Tetapi langkah kami kemudian terhenti. Di hadapan, berdiri jembatan kereta yang panjang menghubungkan dua punggung bukit. Kami tidak akan mengambil resiko. Sangat berbahaya jika ketika menyebranginya, datang kereta melintas. Kami pun kemudian memutar dan mendaki punggung bukit yang cukup terjal. Jadinya sulit dan melelahkan, namun menyenangkan juga.

Ketika akhirnya tiba di atas bukit, yang kami dapati adalah anugerah. Sebuah hamparan padi yang padat, rapat, menguning. Cakrawala hijau pun terbentang luas ke seluruh penjuru perbukitan. Sungguh sebuah pemandangan yang indah dan damai. Kami pun melepas lelah sambil terduduk, menikmati pemandangan dan sesekali angin gunung sejuk bertiup di tengah siang yang terik. Kemudian terlintaslah nyanyian itu…”Tanah airku Indonesia.. Negeri elok amat kucinta…”

Sekian menit pun berlalu. Kini, rehat ini cukup. Kami berjalan lagi. Di kejauhan, tampak sebuah masjid berdiri di atas bukit yang lain. Hari sudah siang.. di sana kami bisa shalat dzuhur, dan rasanya itu tempat yang pas untuk jadi akhir perjalanan hari ini. Tak jauh kemudian, kami melintasi sebuah kampung. Di sini kami singgah di sebuah warung untuk minum. Terik matahari telah mengeringkan kerongkongan kami. Ibu pemilik warung ini ramah. Darinya kami tahu bahwa kampung ini bernama Pasir Kuntul.

Setelah lega haus kami, perjalanan dilanjutkan. Masih ada dua bukit yang harus dilalui untuk tiba di masjid itu. Kami pun menuruni lereng, menyusuri pematang, melompati undakan, sambil sesekali terjatuh. Sampai akhirnya tiba di lembah. Setelah menyeberangi sungai kecil, kami mendaki bukit kedua mengikuti jalan setapak yang ada, sampai di atas. Dari sini tampak hamparan sawah—yang tadi terlihat dari bawah jembatan tol, di punggung bukit ketiga. Di atas bukit itu juga masjidnya berdiri.

Dengan menerobos semak-semak kami menuruni bukit kedua. Kali ini tidak ada jalan setapak dan pematang. Setelah bersusah payah, sampailah kami di kaki bukit ketiga. Inilah hamparan hijau yang kami tuju. Di sini, saya berdiri dikelilingi perbukitan. Ladang dan hamparan padi luas menghijau hingga ke puncaknya. Di atas sana para petani berkumpul di saung, untuk rehat tengah hari. Mereka adalah manusia yang dengan rendah hati menyerahkan denyut hidupnya untuk diatur oleh alam. Sungguh, sebuah dunia yang lain. Yang terpisah dari dunia hiruk-pikuk yang gersang mengeraskan hati.

Sementara yang lain mendaki bukit, saya memilih merebahkan badan di pematang sawah. Merasakan terik menerpa dada, merasakan sejuk dedaunan padi, berharap dapat merasakan diri menyatu dengan kedamaian hamparan hijau ini.. menjadi bagiannya, hilang ditelannya. Inilah damai yang dicari…

Di puncak sana, teman-teman sudah menunggu. Saya pun kemudian menyusul. Sesampai di atas, terlihat jembatan kereta yang tadi menghalangi. Dengan memutari dua bukit, kini jembatan itu sudah bisa kami lewati. Jauh juga perjalanan ini ternyata. Tapi belum usai. Kami pun berjalan menuju masjid.. melintasi ladang sayuran, juga persawahan yang baru saja dipanen. Tumpukan gabah masih tampak di sana-sini.

Kehadiran kami ternyata menarik perhatian warga. Sedikit tidak enak hati sebenarnya. Serasa memasuki halaman rumah orang tanpa izin. Karenanya kami pun meminta izin melintas sambil menanyakan arah ke masjid. Dengan ramah mereka memberi senyuman dan jawaban. Katanya, sudah dekat. Hanya beberapa belokan saja, maka kami akan sampai di sebuah masjid kecil di tengah kampung Bojongkoneng. Di sana kami membersihkan badan, berwudhu dengan air yang sejuk, dan shalat dengan hati tenang… Adalah sebuah kepulangan jiwa ke hadapan penciptaNya. Dan perjalanan tadi adalah sebuah kepulangan diri ke tengah pelukan bumi pertiwi.

Sekian lama kami di masjid, lelah pun sirna seluruhnya. Kini, tiba waktu untuk kembali ke kota. Dari warga, kami mendapatkan arah menuju jalan raya. Kami pun beranjak dan berterima kasih. Di perjalanan melalui kampung lain, Parakan, sekali lagi kami disuguhi pemandangan hamparan sawah yang luas, dengan sungai yang membelah, dan pepohon kelapa yang nyiur tertiup angin. Begitu indah.

Dan akhirnya kami sampai di jalan raya. Usai sudah perjalanan ini. Dari sini, dengan angkutan kota, kami kembali ke Stasiun Padalarang. Kembali ke hiruk pikuk dunia.

Di dalamnya, manusia memacu hidup sesuka fikirannya, dan melupakan hatinya. Di sisi lain, berjuta mereka yang tersisihkan hanya bisa berharap masih mendapat bagian.. sambil memendam amarah pada dunia yang tak ramah. Nun di tengah hamparan perbukitan, para petani memasrahkan denyut hidupnya pada nadi alam yang damai. Pada matahari, pada arus air, angin.. dan pergantian musim.

Seberapakah kita terhubung dengan dunia dan pada nurani sendiri? Apakah mata hati masih melihat? Apakah masih ada keheningan agar nurani bisa terdengar dan mendengar..? Tuhan mencipta manusia dan dharmanya begitu khas, bukan untuk terasing satu sama lain. Yang kutahu, Ia menghendaki kita untuk saling terhubung. Dengan peduli. Sehingga di tengah dunia ini, kita menemukan makna..Dan dengannya kita bersyukur karena dikehendakiNya kita pernah tercipta…

Iklan

2 tanggapan untuk “di perbukitan padalarang”

  1. lumayan lah…
    1 botol aqua besar
    2 botol aqua kecil
    1 botol nu tea
    dan 2 botol sprit…

    itu semua buat bertiga 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s