my brand new life!

Saat-saat pergantian tahun kemarin benar-benar momen yang sangat berharga buat saya. Banyak keputusan penting yang dibuat, dan tampaknya adalah keputusan-keputusan yang sangat tepat. Dari situ, banyak hal-hal baru yang saya dan elma mulai.

Sekarang, di awal 2008 ini, saya tidak lagi jadi karyawan di Yayasan Salman. Dan karena tidak juga mengikat diri dengan jadi karyawan dimanapun, sekarang saya punya keleluasaan yang maksimal.

Dan ini luar biasa untuk saya. Di pagi hari, saya bisa menyusun rencana aktifitas sekreatif mungkin, dan memaksa saya mengoptimalkan seluruh sumber daya yang saya miliki : waktu, fasilitas, relasi dan teman, dll. Kalau di pagi itu saya ingin membaca buku atau menulis cukup lama, itu juga bisa saya lakukan. Jika istri, mertua, atau tetangga butuh bantuan hari itu, saya pun bisa membantu hingga selesai. Jika ada rekan yang mengajak saya menyelenggarakan training selama beberapa hari, di luar kota sekalipun, saya bisa menerima tawarannya.

Sebuah kebebasan yang maksimal. Yang berarti sebuah ruang untuk optimalisasi waktu dan potensi, dan ruang curah kreatifitas yang seluas-luasnya. Sebuah hidup yang benar-benar “hidup yang sesungguhnya”. Kebebasan seperti ini rasanya jauh lebih luar biasa dari yang saya rasakan ketika lulus dari ITB. Sebuah kebebasan yang langsung menyulut semangat saya menyala-nyala untuk mensyukuri dan mengoptimalkan setiap kesempatan, potensi, dan segala anugrah Tuhan untuk saya.

Sebuah perasaan yang sangat luar biasa. Senantiasa sadar akan keadaan diri dan kesempatan yang ada di sekitar saya. Senantiasa penuh semangat dan hidup. Sangat luar biasa.

Semua berawal ketika saya berfikir untuk berhenti kerja di Salman akhir November lalu. Setelah dua tahun di sini, saya merasa sama sekali tidak berkembang. Di Salman, keadaan yang saya hadapi rasanya tidak kondusif. Sangat subjektif memang. Untuk saya, semua berjalan begitu lambat sehingga waktu sering terbuang tidak jelas dan kreatifitas pun membeku. Untuk itu saya perlu awal baru, ruang baru.. yang lebih luas dan fleksibel.

Dan ternyata memang benar. Bahkan ketika baru memutuskannya di rumah.. saat itu saya mendadak menjadi lebih lega dan bersemangat. so excited. Saat itu saya tidak punya kepastian sama sekali apa selanjutnya aktifitas saya, dan bagaimana saya bisa tetap berpenghasilan. Tapi yang pasti saat itu saya yakin, kalau saya lepas dari Salman saya akan jauh lebih leluasa untuk mengerjakan apapun yang penting dan menarik bagi saya. Bahkan untuk mengerjakan berbagai urusan seperti itu dalam satu waktu.

Maka begitu masuk bulan Desember, dengan kepastian kalau saya akan resign di akhir tahun, saya mempertimbangkan berbagai aktifitas untuk digeluti mulai Januari nanti. Sejak saat itu keserbamungkinan pun mulai terasa. Berbagai kesempatan kerja dan berkreasi tampak ke permukaan. Berbagai tawaran aktifitas datang dari teman-teman saya. Mulai dari aktifitas yang besar dan mengikat sampai berbagai aktifitas kecil yang bisa saya lakukan di waktu luang.

Banyak alternatif yang muncul. Seperti jualan herbal di sekitar perumahan saya, bikin pin, jualan tas laptop Deuter lewat internet, jadi affiliate talent mapping, dll. Yang lebih besar dari itu : bergabung dengan Bimbel Edulab sebagai konselor, menjadi editor freelance, bikin tim training dengan beberapa rekan, dan terakhir adalah tawaran untuk kerja sebagai sales engineer di sebuah software house di Bandung. Begitu banyak. Sampai batas dimana saya justru jadi kesulitan untuk menentukan mana yang akan diambil dan diprioritaskan.

Di sini saya bertemu dengan tantangan baru. Tantangan untuk konsisten dengan visi hidup dan arah pengembangan diri. Dari sekian kemungkinan yang muncul, cukup banyak pilihan yang jauh dari visi saya, tapi di saat yang sama menawarkan gaji yang besar dan kerjaan yang simpel—yang kalau dipilih, maka secara sadar saya menjauhi minat, bakat, dan panggilan hidup.

Oleh karena itu saya sempat menyusun berbagai kombinasi aktifitas. Mulai dari terikat dengan sebuah pekerjaan tetap dan hanya menyisakan sedikit waktu luang, terikat dengan dua atau tiga pekerjaan paruh waktu, sampai kombinasi yang benar-benar fleksibel karena tidak terikat untuk waktu yang lama dengan sebuah pekerjaan apapun.

Akhirnya saya sadar, kalau yang saya inginkan adalah kebebasan semaksimal mungkin. Dengan itu saya bisa bersentuhan dengan sebanyak mungkin aktifitas dan pekerjaan, baik yang profitable ataupun yang filantropi. Dimana saya bisa memaksimalkan potensi dan kreatifitas saya untuk memanfaatkan setiap kesempatan, mengisi hidup, menghadapi dan memecahkan berbagai masalah, dan memanfaatkan segala sumber daya. Untuk menghasilkan sesuatu, menciptakan sesuatu, menolong seseorang atau orang banyak, serta melakukan aktifitas apapun yang baik.

Alhamdulillah, setelah melalui sekian hari dalam kebingungan.. di akhir Desember lalu Allah memudahkan saya untuk melihat polanya. Entah bagaimana perlahan-lahan keadaan dan kemungkinannya seperti jadi lebih jelas. Saya pun memilih berada dalam posisi sebebas mungkin. Saya meninggalkan semua tawaran pekerjaan yang menutup kemungkinan saya untuk terlibat dengan pekerjaan atau aktifitas lain.

Saya sendiri sudah menentukan bahwa visi dan kompetensi saya yang utama adalah di bidang pengembangan diri. Training, konseling, self awareness, yang semacam itu. Nah, keadaan ini memungkinkan saya untuk terlibat dalam sebanyak mungkin training yang digagas oleh rekan dan senior saya yang sudah lebih berpengalaman di bidang training, dan di saat yang sama masih menyisakan banyak waktu luang untuk saya mewujudkan berbagai kreatifitas saya dalam berbagai aktifitas seperti jualan, ngebantuin orang, dll.

Maka sekali lagi, Alhamdulillah. Sekarang, di sinilah saya. Aktifitas utama saya adalah bekerja sama dengan beberapa rekan dan senior untuk merancang dan mengelola training. Selain itu saya juga mulai mencoba jualan herbal, pin, tas laptop, dan InsyaAllah juga jadi affiliate talent mapping. Waktu luang bisa saya pake untuk apapun. Baca buku, nulis, silaturahim ke teman dan saudara, dan mengerjakan segala pekerjaan apapun yang baik. Ya, apapun yang baik. Termasuk ngurus RT, ngebantuin tetangga, dll. Elma juga jadi terdorong dengan pilihan ini. Sekarang Elma juga mulai mencoba berjualan majalah pengasuhan anak, Auladi, dan juga jualan jilbab, ke tetangga.

Maka hari ini saya begitu bersyukur dengan kondisi, circumstance, nuansa, dan semangat yang saya rasakan. Benar-benar sebuah berkah dari Allah yang harus senantiasa saya syukuri hari demi hari, waktu demi waktu. Nyatanya, kesadaran untuk senantiasa bersyukur pun begitu menguat seiring saya melepaskan diri dari segala posisi ‘yang menjamin penghasilan’ yang sebenarnya semu.

Begitulah, hari-hari ini dan ke depan adalah saatnya saya untuk senantiasa bersyukur sebaik-baiknya. Menjadi seorang ahli syukur.. seseorang yang berupaya sebaik mungkin untuk memberi nilai tambah bagi setiap momen, kesempatan, keadaan.., bagi kehidupan. Untuk menghasilkan sebanyak-banyaknya kebaikan.

Last, selamat Tahun Baru untuk semuanya! Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk bersyukur dengan sebaik-baiknya amal kehidupan, dan dengannya semoga Allah berkenan membahagiakan hidup kita di tahun ini.

Iklan

2 tanggapan untuk “my brand new life!”

  1. Alhamdulillah..
    Sukses ya kang..

    Bener lho, dengan bersyukur allah
    akan memberikan lebih dari apa yang kita
    bayangkan… bener ga kang??

    Sukses, sukses!!

    Salam

  2. asw.

    ternyata.. akang, selama ini menghilang.. ada di sini.

    Selamat beramal kang firman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s