melihat dunia nyata

hari kamis lalu, alhamdulillah, saya bisa merasakan satu nikmat luar biasa yang bisa dikata ‘hasil’ dari pilihan menjadi ‘self employee’ di awal 2008 ini.

Sepanjang hari kamis itu saya mengerjakan tugas sebagai anggota panitia pelaksana Pilkada di kelurahan saya, Cijerah, Bandung. Yang dikerjakan adalah survey dan mengambil data tentang jumlah pemilih dan letak TPS di RW 07, 08, 09, dan 10.

Empat RW itu memang terletak di daerah yang tidak pernah saya rambah seumur-umur saya jadi penduduk Bandung sejak 1997 lalu. Letaknya di daerah segi empat antara jalan raya sudirman, jalan raya cijerah, jalan melong asih, dan sungai cikendal. Jadi, pasti apapun yang saya lihat adalah pemandangan baru.

Dan nyatanya memang saya ‘mengalami’ hal baru ketika itu. Empat RW ini ternyata daerah pemukiman padat dan agak kumuh. Jalan-jalannya kecil, tak mungkin dilalui kendaraan roda empat. Rumah-rumahnya juga kecil, berdesak-desakan, dengan fasilitas seadanya. Sebagian besar penduduk di empat RW ini adalah buruh pabrik, pekerja kasar, dan pendatang dari luar Bandung.

Berada di daerah itu, benar-benar tidak seperti berada di Bandung. Dan menyadari itu, saya merasa persepsi saya tentang kota Bandung harus berubah. Harus. Karena persepsi saya tentang Bandung selama ini tidak memasukkan mereka dalam perhitungan. Bandung yang saya kenal selama ini, yang digembar-gemborkan orang, adalah Bandung yang kreatif, yang berseni, yang nyaman, yang senang–yang menyisihkan mereka yang kecil dan kumuh.

Saya sudah cukup sering melihat perumahan padat di Bandung. Saya juga sering melihat pengemis, anak jalanan, dsb. Namun, menyadari dan merasakan dengan nyata bahwa mereka adalah bagian dari hidup saya juga, itu yang baru saya rasakan ketika seharian berkeliling di gang-gang sempit dan kumuh itu.

Ternyata mereka ada di tengah-tengah lingkungan saya. Ternyata mereka adalah bagian dari saya. Ternyata inilah dunia nyata.Tidak sekedar terlihat, tapi juga terasa.

Iklan

2 tanggapan untuk “melihat dunia nyata”

  1. Setuju, Kang. Saya juga pernah. Di dekat Salman, tepat di belakang gereja dekat Jalan Sulanjana, ada sebuah permukiman yang benar-benar kumuh.

    Saya pertama kali ke sana saat melayat salah seorang anggota keluarga yang meninggal. Ruangannya sempit banget, jauh lebih kecil dari kamar saya di asrama. Shalat jenazah pun berdesakan.

    Kalau ingat itu, rasanya sedih. Lebih sedih lagi karena ngerasa ga bisa bantu banyak buat mereka 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s