Haji.. sebuah perjalanan pulang

hajj1Bersyukurlah mereka yang di hatinya telah terasa panggilan itu. Suatu rasa yang kuat.., suatu rasa yang tidak bisa dibuat. Sebuah rasa keterpanggilan.., semacam kerinduan, yang membuat diri ini tergerak untuk mensegerakan. Maka ketika lafadz itu diucapkan, Labbaik Allahumma Labbaik…, ucapan itu mengalir dari hati yang jujur dan sepenuhnya merasakan bahwa Haji adalah sebuah pemenuhan panggilanNya.

Sejujurnya, rasa itu belum ada di hati ini. Tidak bisa dibuat. Meski nalar ini sepenuhnya sadar bahwa kesanalah setiap muslim ingin melangkah. Dan saya menyadari betul kenyataan ini ketika dua bulan lalu mengantar tetangga untuk berangkat menunaikan haji.

Nama beliau Pak Adjat. Seorang sesepuh RT saya. Beliau orangnya ramah, bersahabat. Seringkali beliaulah yang lebih dulu menyapa ketika kami berpapasan. Dengan keramahan itu juga, ketika bertemu di masjid saat shalat magrib atau isya, beliau menceritakan rencananya untuk berangkat haji di tahun ini.

Katanya, keberangkatannya ini benar-benar sebuah anugrah. Beliau selalu berkeinginan tetapi tak pernah punya kecukupan. Sampai suatu saat datang di rumahnya seseorang yang tidak begitu dikenalnya tetapi ternyata adalah seseorang yang pernah ditolongnya dahulu. Orang itu pun datang hendak membalas budi, dan berkata dalam bahasa sunda halus yang intinya..”sudah selayaknyalah bapak bisa naik haji. ijinkan saya memberangkatkan bapak untuk berhaji sebagai ungkapan terima kasih atas pertolongan bapak dahulu kepada saya”.

Menceritakan itu semua, terasa kebahagiaan dan rasa syukur begitu kuat terpancar dari Pak Adjat. Saya yang masih begitu muda di hadapan beliau sudah sangat senang dapat mendengar langsung cerita itu dari beliau.

Sebenarnya Pak Adjat tidak cukup sehat untuk berangkat haji. Beberapa bulan sebelum keberangkatan beliau bahkan pernah mengalami serangan stroke ringan. Oleh karena itu kami semua mengantar beliau dengan sepenuh doa pengharapan agar beliau dimudahkan dalam menunaikan segenap rukun haji dan dapat kembali ke tengah-tengah kami dalam keadaan sehat dan mabrur.

Pak Adjat berangkat haji dengan hati yang begitu bahagia. Yah, beliau seorang sesepuh yang sempurna. Ramah, banyak berkontribusi di lingkungannya, disukai semua orang, dan sampai usia senjanya, meski pernah stroke, selalu berusaha untuk berangkat ke masjid.

Demikianlah masa-masa ibadah haji hingga puncaknya terlaksana di tanggal 10 Djulhijjah. Semua berjalan sempurna. Dan pada hari sabtu kemarin kami yang disini mendapatkan kabar bahwa di Jeddah Pak Adjat berpulang ke rahmatullah, tepat di hari-hari kami menanti Pak Adjat hadir kembali di sini bersama kami.

Yah, tentu kami terkejut. Namun pada akhirnya semua tampak sempurna. Beliau yang begitu baik, telah Allah ijinkan dan Allah antarkan hingga menyempurnakan hidupnya dengan Haji. Dan Haji itulah yang menjadi langkah paripurna hidupnya hingga menjemput kepulangan. persis seperti yang beliau inginkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s