Mengisi hidup, hingga akhirnya

Kesadaran akan terbatasnya waktu hidup yang kita miliki tentulah salah satu hal yang mendorong kita memikirkan betul ‘apa yang akan kita lakukan dalam hidup ini’. Apalagi kita yakin betul bahwa setelah satu episode di dunia, akan ada episode kedua yang merupakan konsekuensi dari ‘kinerja’ di episode pertama.

Tapi memang ketika kita memikirkan kematian, pikiran ini bisa langsung berlari ke banyak arah. Ketika anak-anak, mungkin kita takut mendengar kematian karena dekat dengan dongeng-dongeng tentang hantu, kuburan, dsb. [Ada yang masih berpikir kesana sekarang? 🙂 ]. Ketika lebih dewasa mungkin kita pun masih tidak nyaman dengan tema ini karena banyak sebab. Mungkin karena kematian berarti kehilangan segala yang ada saat ini, meninggalkan semua yang dicintai.

Mungkin juga terasa tak nyaman karena dalam banyak kesempatan kita menyaksikan mereka yang meninggal menyambut kematian dalam keadaan sakit dan kepayahan, baik fisik maupun mental. Mungkin juga karena kematian berarti awal dari ‘pengadilan’ sementara diri masih merasa penuh dosa, banyak kesalahan, tak siap untuk menjalani episode kedua yang sama sekali tak terbayangkan seperti apa adanya.

Kematian selalu menjadi tema yang berat untuk dipandang, dirasa, dipikirkan, diresapi, dan diterima. Pada akhirnya, dan terutama, karena kita sadar dia adalah momen yang pasti datang. Tak terhindarkan.

Secara alami, naluri kita memandang kematian sebagai sebuah momen khusus. Kita mengamati bagaimana proses kematian seseorang, bagaimana kejadiannya, apa akibatnya bagi orang lain–keluarga yang ditinggalkan khususnya, bahkan kita pun melihat ada tata cara tersendiri untuk menyambut dan menangani kematian seseorang baik dari sisi agama maupun budaya.

Namun kita mungkin bisa mendapatkan pemahaman yang berbeda ketika melihatnya dari sudut pandang yang lain. Bagaimana kalau kita memandang kematian bukan sebagai sebuah momen khusus, melainkan sebuah ujung dari sebuah momen besar : “Kehidupan”. Dengan begitu akal dan jiwa kita senantiasa fokus pada sebuah kesadaran bahwa “hidup adalah sebuah kesempatan agung yang ingin saya isi”.

Bagaimana kita mengisi dan memenuhi hidup menurut saya pada akhirnya menjadi cara yang kita pilih untuk menyambut batas akhirnya. Dengan begitu fokus kita adalah mengisi hidup bukan mengkhawatirkan kematian.

Maka, meski kita memang tidak dapat menentukan kapan kita bertemu dengan kematian, tetapi kita memiliki kesempatan untuk menentukan dengan cara apa kita mati : dengan menentukan apa yang kita lakukan untuk mengisi hidup yang agung ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s