Konflik kedaulatan Palestina – Israel

Sudah cukup banyak referensi dan opini seputar sejarah konflik Palestina – Israel di jagad maya, sebagiannya juga membantu kita melihat kemungkinan masa depan konflik ini. Sejauh pembacaan saya, salah satu yang paling menarik adalah diskursus tentang ‘duduk perkara’ konflik ini.

Kalau ada yang mengatakan ‘duduk perkara’ konflik panjang tak berkesudahan ini adalah konflik kedaulatan, tak salah juga menurut saya. Hanya saja saya ingin mengajak untuk berpikir lebih dalam, mencoba mencari hal-hal terpendam yang membuat kedua bangsa ini tak juga bersedia untuk saling mengakui kedaulatan masing-masing.

Ya, kedaulatan sesungguhnya adalah hasil. Sementara hal-hal yang mendorong sebuah bangsa menginginkan kedaulatannya sendiri, dan juga MENOLAK mengakui kedaulatan bangsa lain, adalah hal-hal primordial : agama, ideologi, pandangan hidup, nilai, budaya, tradisi, ras.

Dan tampaknya, ego kebangsaan juga yang membuat Israel demikian jumawa memasuki tanah palestina dengan kasarnya. Ego kebangsaan juga yang membuat sikap negara Israel selama ini tidak bersahabat, dan pada akhirnya selalu memancing kebencian dan permusuhan. Faktanya, dunia sudah sejak lama menyoroti tindakan-tindakan mereka yang kerap kasar, brutal, tanpa rasa kemanusiaan. Karena mereka merasa, sebagai bangsa yang unggul mereka berhak melakukan itu semua. Dan dalam keyakinan agamanya, mereka merasa senantiasa dijanjikan bahwa tanah itu adalah tanah mereka.

Saya tidak bisa menyangkal jika ada yang menilai bahwa sebagian umat islam pun sibuk memelihara dan memperbesar kebencian kepada yahudi, dan menjadikannya “pemacu semangat perlawanan dan perjuangan”, seakan-akan seluruh yahudi adalah musuh dan selamanya akan begitu–sebuah pandangan yang jelas tidak sesuai dengan apa yang Allah sampaikan di AlQur’an. Tapi di saat yang sama saya juga ingin berkata dengan yakin bahwa mayoritas bangsa Palestina–dan islam umumnya selalu membuka pikirannya untuk kemungkinan hidup berdampingan dengan mereka yang berbeda agama, ideologi, tradisi dan ras. Selama masing-masing menunjukkan itikad baik untuk saling menghargai.

Pada akhirnya, ini adalah konflik ego. Dan hanya akan selesai ketika bisa ditegakkan batas-batas yang memaksa setiap pihak untuk menghargai hak dan harkat hidup pihak lain. Dan dibutuhkan keberanian yang besar untuk menegakkan itu hingga tak dapat lagi diruntuhkan oleh salah satu pihak yang tidak dapat menahan diri.

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s