Antara “Religion” dan “Spirituality”

Dalam Agama, “religion” dan “spirituality” adalah dua sisi yang berbeda. Religion lebih tentang bagaimana menjalankan tata laksana agama yang distrukturkan oleh aturan dan otoritas keagamaan seperti oleh para Ulama atau Ustadz, sedangkan Spiritualitas adalah tentang bagaimana gerak hati dan jiwa mengarah dan mendekat kepada Sang Sumber dan Sang Tujuan, Illahi Rabbi.

Ilmu Qur’an dan Hadits, aturan-aturan fiqih dan syariat, segala tata laksana ritual, termasuk juga struktur masyarakat atau komunitas islam dan juga anatomi kendali serta ketaatan umat pada semua otoritas keagamaan adalah wajah dari religion. Adapun spiritualitas islam terasa dalam praktik dan penjiwaan ibadah, dalam dzikir, tafakur, taqarrub, muhasabah, dan semacamnya. Demikian juga dalam ihsan, roja dan khauf, dalam ikhtiar yang ikhlas dan tawakkal hanya kepada Allah.

Dalam konteks keberagamaan umat islam saat ini, menjadi sangat penting untuk dipahami bahwa perbedaan antara spirituality dan religion itu seperti perbedaan antara “percaya kepada Allah” dan “percaya kepada orang yang bercerita kepada kita tentang Allah”. Percaya kepada Allah sesungguhnya terekspresi dalam spiritualitas islam. Sementara religion, yang tak lain adalah “jembatan antara” sesungguhnya adalah tentang bagaimana kita percaya dan mengikuti orang yang bercerita kepada kita tentang Allah.

Memang setiap manusia pada awalnya mengenal Allah karena diperkenalkan oleh orang lain. Oleh karena itulah di dalam islam ada Nabi dan Rasul. Peran mereka sangat sentral, dan dalam proses itu sangatlah penting adanya kepercayaan antara kita yang mempelajari agama dengan mereka yang mengajarkannya kepada kita. Orangtua, guru-guru kita, para ustadz dan ulama yang meneruskan ikhtiar para Nabi dan Rasul, mereka adalah orang-orang yang kita percayai tuturannya, ajarannya, sehingga dari situ akhirnya kita memiliki pengalaman dan pemahaman langsung tentang agama ini, dan melalui jalan itulah kita akhirnya ‘bertemu dan mengenal’ Allah.

Namun di saat yang sama penting untuk memahami bahwa religion adalah jembatan antara untuk kita akhirnya sampai pada hakikat agama ini : mengenal dan menjadi hamba Allah. Janganlah kiranya kita terhenti di tengah jembatan, menyibukkan diri dengan semua detil tentang aturan agama atau terlalu asik dengan kedekatan, penghormatan, dan kesetiaan kita terhadap sesosok ustadz/ulama atau terhadap sebentuk jamaah/haraqah/organisasi islam, sehingga kita perlahan justru lupa pada Allah. Dalam ‘kelupaan’ itu, Allah yang Maha Hidup dan Maha Hadir dalam hidup kita justru tanpa sadar telah ‘diubah’ menjadi sekedar kata, konsep, simbol, atau sosok yang pasif, yang ‘tak hidup’.  Dalam ‘kelupaan’ itu ibadah kita memang ‘masih’ menyembah Allah, namun sesungguhnya bagamana kita menjalankan semua ibadah itu, tata caranya, jumlah dan bilangannya, waktu dan bacaannya, sebenarnya ternyata lebih merupakan ekspresi kepercayaan dan kepatuhan terhadap manusia lain yang memegang otoritas keagamaan : para ustadz, ulama, ajengan, mursyid, atau apapun namanya.

“Kelupaan” seperti itu sungguh sebuah ironi tak terperi. Hal seperti itu bisa menjerumuskan kita menjadi sama dengan mereka yang menyembah berhala : yang disembah berhalanya, tapi sebenarnya yang dipatuhi dan ditaati adalah para tetua dan pemuka agama yang mengajarkan kepada mereka untuk menyembah berhala. yang disembah ternyata bukan yang ditaati dan dipatuhi.

Adalah ironi jika ketaatan agama yang ada dalam diri kita ternyata bukan tentang ketaatan kita kepada Allah, melainkan hanya sebatas ketaatan dan kepercayaan kita kepada manusia lain yang bercerita kepada kita tentang Allah. Jangan-jangan ini membuat kita akhirnya ‘tak pernah sampai kepada Allah’. Ironi seperti ini bisa dilihat saat seseorang tak mampu menyadari jika ternyata ada ‘gap’ atau perbedaan antara apa yang diajarkan, dicontohkan, dibenarkan, atau bahkan diperintahkan oleh guru atau pemimpin jamaahnya, dengan apa yang sebenarnya diajarkan, ditunjukkan, dan diperintahkan oleh Allah. Saat tak mampu lagi melihat gurunya, ustadz atau mursyidnya, sebagai manusia biasa yang mungkin salah, dan bagaimana pun juga bukanlah representasi Allah, saat itulah pengajaran agama, religion, menjadi ironi bagi niat baik di awal untuk mencari, mendekat, dan mengenal Allah. Bahkan Rasulullah SAW pun, manusia terbaik, yang maksum, yang terjaga dari kesalahan, senantiasa melarang kita memuliakan beliau dengan cara-cara yang bisa membuat kita tanpa sadar menempatkan ia mensejajari Allah.

Pelajarilah agama yang sempurna ini. Amalkan semua yang bisa diamalkan. Dan tempuhlah perjalanan spiritual di dalamnya hingga kita mengenal dan ‘bertemu’ dengan tujuan kita, Allah. Maka perhatikanlah saat ini, di tengah perjalanan hidup kita ini, siapa sebenarnya yang paling engkau tatap, engkau simak, dan engkau dekati dengan hatimu, ustadzmu.. atau Allah, Tuhanmu?

Iklan

2 tanggapan untuk “Antara “Religion” dan “Spirituality””

  1. Tuhan itu fakta, agama menjadikanNya mitos,dan manusia lebih menyukai mitologi daripada fakta.

    Jikalau Isa sebagai nabi turun ke Bumi sekarang, maka pihak yang akan membunuhnya pertama kali, adalah para petinggi agama. Manusia sudah berusaha membangun struktur kepercayaan dan norma sedemikian rupa, sepeninggal nabi terakhir yang ditunjuk. Jika ada nabi lagi yang turun ke bumi, maka di titik itulah spiritualitas manusia tak lagi membutuhkan lembaga agama, dan runtuhlah semua kerja keras membangun struktur berabad- abad lamanya itu.

    Apa kabar Mas Firman ? 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s