3 Dunia yang Berdekatan

Perhatikan seorang anak berusia 3 tahun. Ia sudah bisa bicara, tertawa dan menangis. sudah bisa bermain, berlari, terjatuh, lalu bangun dan berlari lagi. Begitu hidup dan bersemangat.

4 tahun yang lalu dia tidak ada. Dan di suatu hari Allah menciptakannya : dari tidak ada menjadi ada. Kemudian bayangkan jika sang anak sudah bisa merenungkan kesadaran ini : “4 tahun yang lalu aku tidak ada. Kini aku ada, hidup, dengan segala tingkah lakuku. Aku yang kini begitu hidup, masih begitu dekat dengan momen penciptaan diriku dari ketiadaan.”

4 tahun adalah waktu yang dekat. Tak sampai 4 tahun yang lalu momen penciptaannya baru saja terjadi. pada saat itu terjadi pergeseran tahap kehidupan, dari ketiadaan memasuki kehidupan dunia. Proses pergeseran itu masih begitu dekat, dan karenanya terasa begitu nyata.

Sayangnya kita manusia-manusia dewasa yang sudah terlalu sibuk berpikir ternyata tidak hidup dengan kesadaran dan rasa yang kuat tentang hal itu. Bahwa kita sesungguhnya sedang berada di tengah.. antara ketiadaan sebagai awal kita dan alam kematian sebagai kelanjutan kita.

Mungkin karena kita merasa sudah begitu jauh dari titik awal itu, sejauh 20 atau 30 tahun lebih, sehingga rasa dekat itu sama sekali sirna. Dan karenanya, entah kenapa, pikiran kita terisi oleh asumsi jika kita masih jauh dari tahapan selanjutnya. Pikiran kita kini dipenuhi angan tentang isi hidup yang kita kira akan panjang dan jauh sekira 60, 70, atau 80 tahun.

Kita hidup tanpa kesadaran. Kita hidup dalam keadaan terasingkan dari awal kita dan dari kelanjutan kita. Seakan kita hidup hanya di alam ini saja. Padahal sesungguhnya kita berada di tengah-tengah. Pikiran kita tahu tentang alur dan pergeseran tahapan hidup, namun rasa dekat itu tidak ada, dan karenanya kita tidak hidup dengan kesadaran akan pergeseran tahapan-tahapan yang sesungguhnya nyata dan dekat itu.

Saya ingin senantiasa hidup dengan kesadaran bahwa saya berada di tengah-tengah, bahwa awal saya dan kelanjutan saya itu dekat. Saya bawa kesadaran ini selalu di tengah kesibukan keseharian. Saya semestinya sadar bahwa lengan jiwa ini membawa dan menggenggam pegangan pintu menuju hidup selanjutnya lebih erat dan lekat dari lengan raga membawa telepon genggamnya. Lengan jiwa itu bisa kapanpun juga diperintahkan Allah untuk membuka pintu itu.

Masa permulaan dan masa selanjutnya itu dekat. Saya tercipta kemarin, hidup di hari ini, dan besok saya menuju kehidupan yang selanjutnya. Saya ingin hidup dengan membawa kesadaran ini selalu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s