Renungan Syawal : Perjalanan Pulang

Dalam setiap nurani selalu ada keinginan untuk pulang. Fitrah ini adalah perwujudan dari sebuah kebenaran hidup : bahwa Allah selalu memberikan awal yang baik.

Hari-hari ini dorongan untuk pulang itu bisa kita lihat dalam banyak hal. Banyak yang ingin ibadah ramadhannya bisa jadi jalan pulang jiwanya pada kesucian. Di sepuluh malam terakhir, begitu banyak yang terpanggil untuk pulang ke masjid, merasakan lagi hangatnya mendekat pada Allah dalam ibadah dan tilawah yang panjang. Lalu ramadhan ini ditutup oleh jutaan orang yang serempak melakukan ritus pulang ke kampung halaman, meski harus menempuh perjalanan jauh puluhan jam hingga berhari-hari lamanya.

Semua itu bisa jadi begitu melelahkan. Namun kita memang ingin pulang. Kita ingin bisa kembali ke kampung halaman, di mana kenangan akan keseharian di masa lalu yang tenang bisa dirasakan kembali. Kita ingin pulang ke masa kecil yang polos dan damai, kembali ke ingatan akan nuansa hidup dengan hati yang bersih. Kita ingin pulang ke tengah hangatnya ikatan keluarga besar yang begitu harmonis. Kita ingin pulang ke awal hidup kita yang polos, murni, dan bahagia.

Memang tidak semua orang memiliki kebahagiaan masa kecil sebagai tempat pulang. Juga tidak semua orang punya kampung halaman. Namun ternyata masih banyak jalan lain untuk pulang. Cerita kepulangan manusia sesungguhnya banyak ragamnya.

Ada yang sesederhana ingin pulang ke dirinya sendiri. Ia tumbuh sebagai remaja yang mengenal diri, dan bahagia akan dirinya sendiri. Namun kehidupan yang ditemuinya di usia dewasa berhasil mengajaknya berpetualang menjadi orang lain. Petualangan itu memang menawarkan kesenangan, tapi itu harus dibayar dengan kegelisahan. Nuraninya kemudian sadar bahwa ia makin jauh dari dirinya sendiri. Sudah terlalu banyak hal yang dicoba, ditempuh, dan dilakukan, entah untuk membuktikan apa dan pada siapa. “Sudah terlalu lama aku meninggalkan diriku sendiri. Kini.. saatnya pulang.”

Tidak sedikit orang yang menempuh perjalanan pulang dalam wujud penelusuran silsilah keluarga. Mereka yang terpisah dari orangtua sejak kecil, tercerabut dari asal-usulnya tanpa tersisa sedikit pun kenangan atau ingatan akannya, kala dewasa, tidak sedikit yang diusik gelisah karena nalurinya membutuhkan kejelasan identitas primordial. Kegelisahan itu kemudian menggerakkan perjalanan penelusuran. Saat akhirnya perjalanan panjang itu menemukan hulu tempat ia berawal, kelegaan yang muncul menggenapkan jiwa yang semula hampa, memberikan kekokohan identitas, dan kini ia merasa lengkap. Ia sudah pulang.

Ada juga kepulangan dalam wujud pencarian jalan menuju Tuhan dengan menyelami nurani dan panggilan ilahiah jauh ke dalam sanubarinya sendiri. Sebagian orang lahir dan besar di tengah peradaban yang entah mengapa tak mengenal dan merasa tak membutuhkan Tuhan. Dan bahkan mereka merasa lebih beruntung dari peradaban yang dikekang oleh konsep Tuhan—yang dianggap sebagai hipotesis yang tidak perlu itu. Di tengah kehidupan seperti itu, ternyata ada saja hati yang tetap bening dan hening.. lalu di saat-saat tertentu panggilan itu terdengar. Dengan berani, ia menyambut panggilan itu. Tuhan sudah memanggilnya pulang.

Lalu, ada juga kepulangan ke kampung akhirat. Tunggu dulu, jangan salah paham. Meskipun kematian adalah kepastian bagi setiap manusia, ternyata tidak banyak yang memandangnya sebagai kepulangan yang sangat dirindukan. Adapun mereka yang senantiasa hidup jiwanya, atau mereka yang Allah panjangkan usianya dalam kesehatan dan ketaatan, atau seiring waktu kesadarannya makin merasakan bahwa dunia ini bukanlah tempatnya lagi. Ia semakin menyadari bahwa dirinya yang sejati bukanlah tubuhnya. Ia semakin bisa merasakan keberadaan ruhnya. Itulah diri sejatinya. Lalu hari demi hari keinginan untuk pulang ke kampung akhirat itu semakin terasa. “Dunia bendawi ini ternyata bukanlah alamku lagi”, ujarnya. “Aku ingin pulang”, “Aku ingin bertemu dengan Tuhanku”.

Ada cerita kepulangan dalam hidup setiap manusia. Saat ini, di kampung halaman masing-masing, mari tinjau perjalanan pulang seperti apa yang hati kita nantikan. Jika telah tersadari, mulailah berjalan pulang. Semoga lekas sampai ya sahabat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s