Berusaha Memahami Kematian

Ayah saya berpulang di atas pembaringan, sepulang shalat isya di masjid, pada malam takbiran idul adha. Tidak ada momen perpisahan. Hanya kabar yang datang tiba-tiba di hari-hari saya menunggu kelahiran anak pertama. Elan tidak pernah melihat kakeknya.

Bibi saya berpulang di tengah perawatan rumah sakit. Ia dokter yang berpulang sebagai pasien. Meninggalkan anak gadisnya yang harus meneruskan tugas sang ibu. Di hari pertama ia membuka pintu ruang praktek ibunya, entah apa yang dirasakannya. Ia mungkin memang menunggu momen ruang praktek itu diwariskan kepadanya. Hanya saja mungkin bukan dengan cara seperti itu.

Adik kelas saya, beserta adik-adik kecilnya, berpulang di tengah sepi malam yang mencekam. Orang asing masuk ke dalam rumahnya saat orangtua mereka menunaikan tugas di luar kota. Begitu getir membayangkan kengerian saat seorang gadis remaja mempertahankan diri dan adik-adiknya. Dengan tangan kosong ia menghadapi belati asing itu. Demi nyawanya, dan nyawa adik-adiknya. Malam itu menyisakan sepi yang semakin getir di dini hari.

Seorang ibu kehilangan anak bayinya di dekapan saat menggunakan kendaraan karena terbekap jas hujan yang ia gunakan di sepanjang perjalanan. Entah seperti apa perasaan sang ibu saat ia menyadari apa yang telah terjadi. Mungkin perpaduan yang begitu mengiris antara rasa kehilangan tiba-tiba dan rasa bersalah yang teramat sangat. Mungkin melahirkan kesedihan yang memanjang entah sampai kapan.

Pada sebuah tragedi pesawat udara, dalam satu waktu seratus lebih cerita pedih terjadi. Seorang istri yang hamil tua harus menerima kabar suaminya tak akan pernah kembali lagi bersamanya. Tugas sebagai pramugara tidak mengijinkan suaminya pulang. Sang anak di kandungan tak akan pernah merasakan pelukan ayahnya. Itu satu cerita dari sekian banyak. terlalu menyesakkan kalau harus merasakan semua.

Kematian, yang kita tahu bisa datang kapan saja, dan nyatanya memang hadir setiap hari, tetaplah sesuatu yang tak mudah untuk kita terima. Mungkin karena kita tak pernah sungguh-sungguh berusaha memahaminya, menyadari keberadaannya yang niscaya. Mungkin karena bagi kita dia sebatas sebuah akhir saja, yang sering kita tuduh datang tidak pada waktunya dan menghentikan apa-apa yang kita harapkan masih berlanjut : kesenangan dunia, kebersamaan dengan orang-orang yang kita cintai, pengejaran sekian banyak obsesi dan cita-cita.

Jika pun kita membicarakan kematian atau diingatkan akan kematian oleh kejadian-kejadian, tanpa sadar kita lebih memusatkan perhatian pada bagaimana kematian itu terjadi, dan seperti apa rasa sakit yang dibawanya. Seperti kejadian-kejadian yang tadi saya tuliskan. Mungkin karena itu kita tak sungguh suka membicarakannya.

Akan baik rasanya jika kita lebih berupaya untuk memikirkan dan memahaminya. Somehow, kesadaran akan kematian saya rasa akan memungkinkan kita hidup lebih baik. Orang baru akan benar-benar terjaga dalam kehidupannya jika ia senantiasa sadar akan kematian. Masih harus terus memikirkan hal ini..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s