Anak Perlu Mampu Membela Diri

Seorang teman berbeda pendapat dengan istrinya saat anak laki-laki mereka pulang sekolah membawa cerita bahwa ia dipukul temannya. Apakah ia boleh membalas? Atau dimaafkan saja? Toh pukulan temannya tidak menimbulkan memar. Yang penting tidak perlu lagi main dengannya. Membalas hanya akan memperpanjang masalah yang sebenarnya bisa dihindari.

Mungkin karena teman saya ini laki-laki maka dia ingin anak laki-lakinya pun membalas perlakuan temannya, dan mungkin karena istrinya perempuan yang ramah dan santun maka lebih menginginkan anaknya terhindar dari masalah. Jadi bagaimana seharusnya?

Mendengar cerita itu saya jadi teringat dengan sebuah cerita yang saya dapatkan di pekerjaan saya. Sebagai career and life counselor sehari-hari saya bertemu dengan beragam klien dengan keunikannya masing-masing : sifat yang unik, pengalaman yang bermakna, pelajaran-pelajaran kehidupan, dan masih banyak lagi. Salah satunya saya rasa relevan untuk dibagi di sini.

Sebutlah namanya Arif. Ia menemui saya untuk membicarakan permasalahan pekerjaan. Ia merasa kompetensinya sesuai dengan pekerjaannya, namun pola kerja dan interaksi di kantor dirasa tidak cocok untuknya, dan itu mengganggu produktivitas kerja serta menghambat kemajuan kariernya. Oleh karena itu ia mempertimbangkan untuk pindah divisi, pindah pekerjaan, atau bahkan mengambil S2 saja sebagai exit strategy.

Untuk memahami masalahnya lebih dalam, saya melakukan assessment kepribadian dan juga meminta kesediaannya untuk bercerita lebih banyak tentang dirinya dan kehidupannya selama ini. Dari apa yang digali dan diungkapnya, kami kemudian memperdalam satu aspek kepribadiannya : Arif adalah seseorang yang sangat tidak suka konflik dan persaingan.

Ia memiliki kompetensi dan kecerdasan yang di atas rata-rata namun kerap ragu untuk menonjolkan kelebihannya karena khawatir itu akan memicu respon negatif dari rekan kerja. Dalam berbagai projek yang dikelola kantornya ia sering punya gagasan dan solusi yang paling baik, namun selalu sungkan untuk mengungkap gagasannya karena perbedaan pemikiran sering berujung pada perdebatan dan konflik antar staf.

Ia tidak mampu menghadapi power orang lain. Mundur jika ditekan. Lebih memilih diam dalam perdebatan. Jika toh akhirnya ia harus berbicara juga ketika ada dalam tekanan, maka ia akan kesulitan untuk berbicara secara runut dan jelas. Sebuah situasi yang sangat tidak nyaman baginya.

Saat itu detil diskusi kami berlanjut lebih pada bagaimana ia bisa mengoptimalkan bakat dan kekuatan yang telah dimilikinya. Pada dasarnya ia sudah ada di jalur karier yang tepat. Jika ia mampu meningkatkan kualitas kompetensi dan kinerjanya sampai benar-benar bagus, maka di kantor ia tidak perlu lagi terlibat dalam persaingan dengan staf lain yang kinerjanya hanya sekedar rata-rata.

Namun ada satu cerita yang Arif ungkap yang membantu saya memahami mengapa ia tidak mampu menghadapi power orang lain. Ketika SD ternyata Arif selalu menghindari temannya yang berperilaku buruk. Ia sering tidak berangkat sekolah karena hal itu. Ia lebih sering berada di rumah. Dan tampaknya situasi itu berlangsung cukup lama. Bisa jadi situasi itu terbawa hingga masa-masa setelah SD.

Pengalaman Arif ketika SD itulah yang relevan dengan situasi yang dihadapi oleh teman saya dan istrinya. Sejak SD kita memang mulai berinteraksi dengan dunia luar, dan suka tidak suka pasti akan berhadapan dengan perlakuan buruk dari orang lain.Terlepas di satu sisi tentu kita ingin anak kita menjadi anak yang santun dan jauh dari masalah, di sisi lain setiap orang perlu belajar untuk menghadapi tantangan, tekanan, dan power orang lain.

Seorang anak harus punya kemampuan untuk terlibat di dalam konflik dan membela diri. Kemampuan ini penting artinya untuk perjalanan hidup dia hingga dewasa kelak. Kemampuan menghadapi konflik dan membela diri adalah sebuah kemampuan kompleks yang meliputi kemampuan otak untuk berpikir tenang di tengah tekanan, kemampuan mengaplikasikan nilai-nilai, kendali emosi, kemampuan komunikasi dalam beragam bentuknya : asertif, persuasif, argumentatif, dan juga diplomatif, hingga kapasitas untuk merasakan rasa marah dan rasa sakit.

Tidak setiap orang harus jago dalam menghadapi konflik dan berhadapan dengan power orang lain. Namun setiap orang pasti akan menghadapi konflik. Melatih kemampuan ini adalah sebuah proses perkembangan diri yang kompleks yang tidak seluruhnya bisa kita ukur dan kendalikan. Namun setidaknya ada yang bisa kita lakukan di awal untuk anak kita : Ijinkan ia menghadapi tekanan dan konflik. Biarkan ia merasakan rasa sakit dan marah. Bebaskan ia untuk membela diri jika mendapat perlakuan buruk dari temannya. Dukung ia dengan sedikit dorongan keberanian jika ia menunjukkan rasa takut. Untuk itu terkadang kita harus tega pada diri sendiri yang tidak ingin anak kita merasakan ketidaknyamanan hidup.

Iklan

2 tanggapan untuk “Anak Perlu Mampu Membela Diri”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s