Live a Strong and Happy Life

Tulisan ini dimulai dari sebuah kegelisahan : mengapa banyak orang yang telah sukses namun masih merasa ada yang kurang dengan hidupnya? Mengapa semakin tinggi pencapaian seseorang tidak selalu berarti hidupnya makin bahagia? Mengapa untuk sukses, hidup justru kerap jadi semakin menekan, melelahkan, dan bahkan melemahkan?

Mungkin karena kesuksesan kerap digambarkan sebagai keberhasilan meraih berbagai hal di luar sana : keberhasilan menempuh pendidikan setinggi mungkin, keberhasilan mendaki jenjang karir, keberhasilan meraih kesejahteraan finansial sehingga dalam usia muda sudah memiliki rumah pribadi dan kendaraan pribadi, dan makin sempurna lagi jika semua itu dilengkapi dengan keberhasilan memiliki pasangan yang bisa dibanggakan dari latar belakang keluarga yang terhormat.

Kesuksesan meraih itu semua tentu bernilai. Namun masalahnya adalah : itu semua semata atribut, sesuatu yang ada di luar diri kita, yang ukuran baik buruknya serta cukup tidaknya begitu dipengaruhi oleh persepsi, penilaian, dan pengakuan orang lain. Repotnya, orang lain itu banyak : orangtua, saudara, teman dekat, pasangan, mertua, keluarga besar, atasan, tetangga, teman lama, dan masih banyak lagi.

Memaksa diri menjadi orang sukses dalam ukuran seperti itu berarti memaksa diri untuk mendapat pengakuan dari berbagai standar dan selera yang berbeda-beda. Meraih sukses seperti itu tentu melelahkan, dan seringkali tak jelas arahnya. Maka tidaklah mengherankan jika yang akhirnya, saat itu semua sudah kita raih, kita justru kehilangan apa yang paling berharga—diri kita sendiri.

Masalah kedua dari gambaran kesuksesan seperti itu adalah : seakan itulah satu-satunya gambaran kesuksesan. Maka bagaimanapun keadaan manusianya, semua dipacu ke arah sana, didorong, dibanding-bandingkan, dan sudah bisa kita duga : hanya sebagian kecil yang bisa mencapainya. Sebagian besar diantaranya tak pernah sampai di sana, dan dalam keadaan lelah harus menerima selamanya dianggap “tidak sukses”.

Masalah yang paling mendasarnya adalah : ia adalah kehidupan yang bersyarat. Saat target-target kesuksesan itu ditentukan, tanpa sadar kita menentukan syarat bahwa kita hanya akan puas dan bahagia jika itu semua telah diraih. Maka kebahagiaan itu tempatnya nanti, bukan hari ini. Untuk memacu diri, kita terus diingatkan untuk berusaha sekeras mungkin karena kita masih begitu jauh dari kesuksesan itu. Maka semakin jauhlah rasa bahagia itu. Mata kita begitu terpusat pada apa yang jauh di sana, maka apa yang ada di hari ini tak benar-benar kita sadari. Karena kita sudah membuat syarat bahwa kebahagiaan itu datang hanya jika semua target itu telah bisa diraih nanti, maka apa yang ada di hari ini kita anggap tidak cukup untuk membuat kita bahagia.

Memulai Hidup Bahagia

Padahal kita bisa bahagia sejak hari ini juga. Bisa dipastikan, pada hidup setiap orang saat ini juga, telah ada begitu banyak hal-hal baik. Kebahagiaan (Happiness) adalah sebuah perasaan yang positif, menyenangkan, merasa berisi sekaligus bermakna. Ini bisa dimulai dari kesediaan untuk merasa puas (Content) atas hidup kita saat ini, menyadari bahwa dalam diri dan hidup kita telah ada hal-hal yang baik. Untuk itu kita perlu membiasakan diri untuk lebih sering memperhatikan apa yang sudah ada di hari ini, daripada merisaukan apa yang belum ada dan berandai tentang apa yang akan ada di masa depan.

Selanjutnya, dengan menyadari bahwa segala hal baik yang sudah ada dalam hidup kita ini sejatinya adalah anugrah Tuhan, semoga kita bisa mulai bersyukur. Rasa syukur (Gratitude) adalah sebuah perasaan senang karena telah menerima sesuatu yang baik, disertai penghargaan yang tinggi pada Tuhan sebagai sumber yang menghadirkan kebaikan itu, dan oleh karenanya kita terinspirasi oleh kebaikan Tuhan itu sehingga kita pun berupaya menggunakan apa yang kita terima itu untuk memberikan kebaikan kepada dunia.

Rasa berisi dan bersyukur yang benar-benar diaktualisasikan dalam karya dan kebiasaan hidup akan menumbuhkan jiwa yang keberlimpahan (Abundant). Semakin kita menyadari adanya hal hal baik dalam diri dan hidup kita, diikuti dengan tindakan aktif menggunakan hal-hal baik itu untuk melakukan dan membagi kebaikan, maka kita akan semakin merasa berisi, karena kita semakin sering merasakan kebaikan terjadi dalam hidup kita, karena kita telah secara sadar dan tulus turut aktif menciptakan kebaikan-kebaikan itu.

Jika anda telah sampai pada bentuk jiwa yang berkelimpahan, anda sudah akan merasakan kehidupan yang lebih sering diliputi kebahagiaan. Anda merasa berharga, merasa berarti, memiliki potensi dan kapasitas untuk mewujudkan banyak hal dalam hidup ini. Anda merasa kuat (Strong). Oleh karena itu, anda akan merasakan dorongan untuk semakin melakukan banyak hal yang positif. Semakin dorongan itu disambut, anda akan merasa semakin berisi dan bertenaga. Dalam kehidupan seperti ini, tidak berarti badan anda tidak akan merasa lelah. Kelelahan itu pasti terasa di badan, namun hati anda akan merasa semakin antusias, semakin bersemangat.

Di samping itu, anda pun telah memiliki keyakinan bahwa pada dasarnya diri anda dan hidup anda baik adanya. Anda pun percaya bahwa sifat, potensi, dan niat hidup anda baik. Oleh karena itu anda telah mampu dengan tenang menampilkan diri anda apa adanya. Hidup menjadi jujur, otentik (Authentic).

Dalam otentisitas, hidup anda menunjukkan siapa diri anda sesungguhnya. Apa yang anda lakukan menggambarkan kemampuan anda yang sesungguhnya. Apa yang ingin anda raih dan wujudkan menggambarkan motif dan nilai-nilai hidup anda yang sesungguhnya.

Hidup seperti ini tidak lagi ditentukan oleh tuntutan orang lain, dan karenanya persepsi atau respon orang lain tidak lagi menentukan arah hidup anda. Ini tidak berarti anda menutup diri. Justru pribadi dengan jiwa yang berkelimpahan selalu mampu untuk membuka diri dan memperhatikan sekitarnya, dan kejujuran memungkinkan anda memiliki hubungan yang tulus dan terbuka dengan orang lain. Anda siap mendengar dan memahami orang lain sebaik-baiknya, di saat yang sama anda pun mampu mengungkap dan menjelaskan diri anda apa adanya.

Dalam interaksi yang jujur itu anda mampu merespon persepsi dan harapan orang lain dengan memilih respon yang paling baik : yang paling bermanfaat bagi orang lain dan di saat yang sama merupakan hal yang paling mampu anda berikan dengan sebaik-baiknya.

Dengan menjadi pribadi otentik dan berkelimpahan, anda telah siap untuk selalu terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri anda. Anda telah mampu menampilkan diri anda sepenuhnya, dan memberikan kebaikan bagi sesuatu yang lebih besar itu. Itulah hidup bermakna (Meaningful), saat hidup anda telah menjadi bagian dari dan melayani sesuatu yang anda yakini lebih besar daripada diri anda sendiri.

Dalam bentuk hidup seperti ini, anda telah siap untuk mendefinisikan ulang perjuangan hidup anda dalam meraih kesuksesan. Dengan menyadari segala kebaikan yang telah ada dalam diri anda sendiri, dan dengan keyakinan untuk menggunakan semua yang telah ada tersebut untuk mulai melakukan banyak hal yang baik dalam hidup, anda akan mulai mampu mewujudkan banyak hal, yang dorongannya bukan diarahkan ambisi, namun oleh rasa syukur. Hal itu akan membuat perjuangan hidup anda selalu ada dalam konteks yang jelas, yang terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri anda : keluarga, kehidupan, dan Tuhan. Dalam bentuk hidup seperti ini, anda akan mampu mewujudkan banyak hal yang bermakna. Hidup seperti ini telah mencapai tingkat kebahagiaan paripurna. Itulah hidup yang sejahtera dalam artian yang sesungguhnya (Wellbeing).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s