A Story of An Activator : Richard Branson

Saat itu Richard Branson baru berumur sekitar dua puluhan akhir. Sudah punya bisnis, tapi belum jadi siapa-siapa. Belum terkenal. Ia sedang berada di Puerto Rico, dan akan menuju ke British Virgin Island. Ternyata penerbangannya malam itu dibatalkan karena jumlah penumpang tidak mencukupi. Padahal ia sangat ingin bisa segera sampai di tujuan.

Menghadapi situasi itu ia memutuskan untuk menyewa pesawat meski tidak punya uang yang mencukupi. Lalu ia meminjam papan tulis, dan ditulisnya “Virgin Airlines, 39 Dollar”. Lalu ia berkeliling ke semua penumpang yang sama-sama mengalami pembatalan penerbangan, dan kursi pun habis terjual. Malam itu bersama semua penumpang pesawat sewaan ia terbang ke Virgin Island.

Begitulah Richard Branson memulai bisnis Virgin Airlines. Dengan sebuah spontanitas. Seorang Activator sejati.

Berapa banyak orang yang mengalami pembatalan penerbangan? Mungkin puluhan atau ratusan orang setiap harinya di seluruh dunia. Namun tidak banyak yang merespon dengan membawa sebuah solusi sekaligus memulai sebuah bisnis.

Itulah keunggulan orang-orang Activator : mereka berani memulai tanpa harus merasa benar-benar siap.

Saat itu Richard Branson tidak memuliki cukup uang untuk menyewa sebuah pesawat. Namun alih-alih mundur, ia justru mencari penumpang tambahan untuk pesawat sewaan itu. Tak lama kemudian ia menelpon Boeing untuk akhirnya benar-benar memiliki pesawat sendiri dan mendirikan Virgin Airlines.

Tentu kesuksesan seorang Activator tidak semata karena keberanian memulai. Dibutuhkan juga konsistensi untuk terus melakukan perbaikan dan penyempurnaan pada apa yang sudah dimulainya. Sebuah spontanitas juga kerap mendatangkan peluang beserta resikonya. Oleh karena itu dibutuhkan kekuatan mental untuk berhadapan dengan kegagalan.Terbukti kini Richard Branson telah memiliki lebih dari 400 perusahaan. Ini adalah hasil perjalanan panjang spontanitas yang dilengkapi oleh konsistensi.

Toh seorang yang memiliki bakat Activator juga memiliki bakat-bakat lain yang melengkapi di dalam dirinya. Maka selain mengandalkan spontanitas, ia pun bisa mengandalkan beberapa sisi lain dirinya yang unggul. Terlebih jika ia pun memiliki tim yang bisa saling melengkapi.

Semua pencapaiannya ternyata bukan karena ia telah menyiapkan diri untuk menjadi pebisnis sejak usia muda. Sebaliknya, lebih sering usaha-usahanya dimulai dalam keadaan ia belum siap. Namun justru itulah yang bisa kita pelajari dari para activator : meski saat ini apa yang ada belum cukup untuk berhasil, namun sudah cukup untuk memulai. Maka mulailah.

Iklan

One thought on “A Story of An Activator : Richard Branson”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s