Arsip Kategori: Jurnal & Kontemplasi

rangkaian lintasan fikiran, perenungan, intisari pengamatan, menyerap semesta hikmah

menyatu dengan semesta

di suatu masa kala remaja.. saya sering diajak keliling jawa tengah mengikuti tugas bapak. Di perjalanan.. hamparan hijau padi di sawah adalah salah satu pemandangan yang sering didapat. Sering juga bapak memutuskan untuk berhenti di daerah seperti itu.. sekedar untuk melepas penat perjalanan. Dalam ketenangan jalan kabupaten yang sepi.. di hadapan terhampar persawahan yang luas seakan tidak berujung.. hingga kaki bukit. Dalam saat-saat seperti itu.. keinginan yang menyeruak kuat dalam hati adalah.. betapa inginnya untuk saya dapat tenggelam di dalam hamparan hijau itu.. menyatu dengan alam, menyatu dengan semesta.

Rasa damai sekali jika demikian. Yah, hamparan itu memiliki kehidupan yang lurus, dan pasrah, tanpa banyak hasrat yang seringkali justru menyesakkan diri kita sendiri. Damai sekali.

Masa itu.. sudah lama berselang. Tapi sampai saat ini, keinginan itu tetap ada. Dan bahkan rasa itu seakan telah menjadi naluri. Suatu keinginan terdasar.

Menyatu dengan semesta. Suatu perjalanan menuju hakikat. Yang pada saat itu, kebenaran bukanlah lagi apa yang kita katakan dan perdebatkan. Saat itu, kebenaran adalah realita.. kebenaran adalah fakta.

Saat itu, saat diri ini menyatu dengan semesta.., saat itulah kita telah menyatu dan hidup dalam hakikat. Saat itu, diri ini telah berserah, ego telah runtuh berkalang tanah, diri ini penuh rindu kembali menyatu sebagai hambaNya, yang tidak lagi tertarik untuk mengingkari hakikat dan fitrah.

hhh.. Tuhan, betapa aku ingin pulang.

Iklan

menimbang rencana masa depan

apa yang akan ada di benak kita saat terbentang masa depan yang luas.. seperti sebuah padang rumput tak berbatas.. dan kita bisa bermain disana sesuka hati.

Apa yang akan kita lakukan saat semuanya mungkin..

Seberapa senang dan takutnya kita menghadapi keserbamungkinan yang berbalut keserba-tak-terkiraan.

Dalam dua bulan ke depan.. urusan saya dengan ganesha 10 akan tuntas, suka ataupun tidak suka. Dan setelah itu.. itulah masa depan laiknya padang rumput.. begitu banyak kemungkinan.. begitu luas ruang pilihan.

Apa yang akan saya lakukan?

bersambung…

dimanakah Tuhan…

Tuhan bukanlah apa yang dituturkan dalam diskusi-diskusi. Bukan juga yang dibahas di mimbar-mimbar kajian keagamaan.. apalagi dalam seteru orang-orang yang membela fikrah(world view)nya masing-masing.

Tuhan tidak ada disana.

Tuhan…

ada dalam sejuk embun pagi hari..

ada pada hamparan padi dan peluh petani.

Tuhan hadir dalam sujud kita yang dalam dan hening di sepinya dini hari. Tuhan ada dalam sentuhan tangan nurani pada wajah anak jalanan..

Tuhan mewujud dalam cinta kita pada setiap ciptaanNya.. pada rumput, pada nyamuk, pada awan, pada matahari, pada pengemis, pada mereka yang memusuhi kita.., juga pada mereka yang memilih untuk tak percaya akan adaNya.

Tuhan ada dalam gerak hati dan tubuh kita..

bukan pada ungkapan dan lintasan pikiran yang diungkap dengan dalih membela agama sekalipun. karena Tuhan tidak butuh dibela. karena kemanusiaanlah yang butuh dibela.. termasuk dari kejahatan yang ada dalam gelapnya kesombongan dan keakuan kita–yang sering tidak

mampu membedakan dengan jujur siapa sebenarnya yang ia bela dan perjuangkan.

wallahu ‘alam

meraih kembali jati diri

beberapa hari lalu.. lewat jalur friendster.., saya sampai di profil seorang rekan lama. Sudah lama sekali saya tidak ketemu, apalagi berbincang dengannya.

Tak lama saya baca testimonialnya.. sesaat kemudian seperti ada sesuatu yang menghantam dada. Saya seperti menemukan kembali jati diri yang sudah lama terabaikan, lewat paparan akan dia oleh rekan-rekannya. Dalam beberapa hal yg mendasar.. saya memang sama dengan dia.

Sejurus kemudian.. yang memenuhi batin saya adalah suatu ironi, kegetiran, suatu kesadaran bahwa : jika saya yang remaja melihat saya saat ini, ia akan mencibir, dan saya akan sangat merasa malu dihadapannya.

Entah mengapa. Seperti begitu banyak yang terkikis dari diri ini. Seperti ada yg hilang.. dan nurani tidak lagi menghargai diri sebaik dulu.

Tapi syukurlah.. kejadian itu–yang membekas di hati mungkin untuk waktu yang lama–membuat saya tahu apa yg akan mengisi hari-hari terakhir saya sebagai mahasiswa di ganesa 10. Akan saya cari dan kembalikan jati diri itu. Ingin saya selesaikan satu tahap penting dalam hidup.. dengan diri yang kembali utuh.

Semoga.

menjadi abadi

siapa yang sudi berperang untuk mati?

siapa yang rela hidup bukan untuk dirinya?

siapa yang bisa menerima bahwa dirinya ada untuk memenuhi keinginan yang bahkan ia tidak sedikit pun berandil menentukannya.

Tapi, nyatanya hidup yang sesungguhnya barulah dimulai ketika menjadi jelas dalam diri kita bahwa kebermaknaan tertinggi diri ini ada pada suatu alasan yang menggerakkanNya menghadirkan kita di dunia, alasan yang mengantarkan kita menjadi abadi di sisi yang Maha Abadi.