Strong and Authentic Career

The good life consists in deriving happiness by using your signature strengths every day in the main realms of living – Prof. Martin Seligman

Sebagaimana hidup yang semata mencari kesuksesan itu terasa melelahkan, bekerja juga kerap terasa begitu. Tampaknya sudah jadi persepsi umum dan diterima sebagai sebuah kewajaran bahwa bekerja identik dengan kelelahan. “Mana ada bekerja yang tidak capek? Kalo ngga capek yang bukan kerja namanya.”

Sejak dulu kerja keras memang diyakini sebagai jurus sukses paling ampuh dalam dunia kerja. “Siapapun orangnya, apapun pekerjaannya, dia akan sukses jika mau bekerja keras”. Begitu prinsipnya. Namun saat jaman mulai menuntut kualitas, ada sebuah fakta objektif di dunia kerja yang mulai disadari para praktisi manajemen SDM : kualitas kinerja ternyata tidak berbanding lurus dengan kerja keras dan rasa lelah, dan orang-orang yang kualitas kerjanya unggul dalam setiap jenis profesi justru adalah orang-orang yang bahagia saat bekerja.

Kerja keras memang akan membuat kita mampu menyelesaikan tugas. Namun seorang pekerja yang kelelahan tidak akan mampu menjaga kualitas kinerjanya secara konsisten. Dan jika untuk sekedar mempertahankan kinerja saja sulit, maka lebih mustahil lagi membangun karir dalam jangka panjang pada pekerjaan yang secara rutin membuat kita kelelahan secara fisik dan mental. Tentu kerja keras adalah sebuah etos hidup yang senantiasa relevan. Namun kita mesti menggunakannya pada konteks yang tepat agar tidak kembali dihadapkan dengan pertanyaan di awal : mengapa untuk sukses, hidup justru kerap jadi semakin menekan, melelahkan, dan melemahkan?

Lanjutkan membaca Strong and Authentic Career

Iklan

Live a Strong and Happy Life

Tulisan ini dimulai dari sebuah kegelisahan : mengapa banyak orang yang telah sukses namun masih merasa ada yang kurang dengan hidupnya? Mengapa semakin tinggi pencapaian seseorang tidak selalu berarti hidupnya makin bahagia? Mengapa untuk sukses, hidup justru kerap jadi semakin menekan, melelahkan, dan bahkan melemahkan?

Mungkin karena kesuksesan kerap digambarkan sebagai keberhasilan meraih berbagai hal di luar sana : keberhasilan menempuh pendidikan setinggi mungkin, keberhasilan mendaki jenjang karir, keberhasilan meraih kesejahteraan finansial sehingga dalam usia muda sudah memiliki rumah pribadi dan kendaraan pribadi, dan makin sempurna lagi jika semua itu dilengkapi dengan keberhasilan memiliki pasangan yang bisa dibanggakan dari latar belakang keluarga yang terhormat.

Kesuksesan meraih itu semua tentu bernilai. Namun masalahnya adalah : itu semua semata atribut, sesuatu yang ada di luar diri kita, yang ukuran baik buruknya serta cukup tidaknya begitu dipengaruhi oleh persepsi, penilaian, dan pengakuan orang lain. Repotnya, orang lain itu banyak : orangtua, saudara, teman dekat, pasangan, mertua, keluarga besar, atasan, tetangga, teman lama, dan masih banyak lagi.

Lanjutkan membaca Live a Strong and Happy Life

Anak Perlu Mampu Membela Diri

Seorang teman berbeda pendapat dengan istrinya saat anak laki-laki mereka pulang sekolah membawa cerita bahwa ia dipukul temannya. Apakah ia boleh membalas? Atau dimaafkan saja? Toh pukulan temannya tidak menimbulkan memar. Yang penting tidak perlu lagi main dengannya. Membalas hanya akan memperpanjang masalah yang sebenarnya bisa dihindari.

Mungkin karena teman saya ini laki-laki maka dia ingin anak laki-lakinya pun membalas perlakuan temannya, dan mungkin karena istrinya perempuan yang ramah dan santun maka lebih menginginkan anaknya terhindar dari masalah. Jadi bagaimana seharusnya?

Mendengar cerita itu saya jadi teringat dengan sebuah cerita yang saya dapatkan di pekerjaan saya. Sebagai career and life counselor sehari-hari saya bertemu dengan beragam klien dengan keunikannya masing-masing : sifat yang unik, pengalaman yang bermakna, pelajaran-pelajaran kehidupan, dan masih banyak lagi. Salah satunya saya rasa relevan untuk dibagi di sini.

Lanjutkan membaca Anak Perlu Mampu Membela Diri

Berusaha Memahami Kematian

Ayah saya berpulang di atas pembaringan, sepulang shalat isya di masjid, pada malam takbiran idul adha. Tidak ada momen perpisahan. Hanya kabar yang datang tiba-tiba di hari-hari saya menunggu kelahiran anak pertama. Elan tidak pernah melihat kakeknya.

Bibi saya berpulang di tengah perawatan rumah sakit. Ia dokter yang berpulang sebagai pasien. Meninggalkan anak gadisnya yang harus meneruskan tugas sang ibu. Di hari pertama ia membuka pintu ruang praktek ibunya, entah apa yang dirasakannya. Ia mungkin memang menunggu momen ruang praktek itu diwariskan kepadanya. Hanya saja mungkin bukan dengan cara seperti itu.

Adik kelas saya, beserta adik-adik kecilnya, berpulang di tengah sepi malam yang mencekam. Orang asing masuk ke dalam rumahnya saat orangtua mereka menunaikan tugas di luar kota. Begitu getir membayangkan kengerian saat seorang gadis remaja mempertahankan diri dan adik-adiknya. Dengan tangan kosong ia menghadapi belati asing itu. Demi nyawanya, dan nyawa adik-adiknya. Malam itu menyisakan sepi yang semakin getir di dini hari.

Seorang ibu kehilangan anak bayinya di dekapan saat menggunakan kendaraan karena terbekap jas hujan yang ia gunakan di sepanjang perjalanan. Entah seperti apa perasaan sang ibu saat ia menyadari apa yang telah terjadi. Mungkin perpaduan yang begitu mengiris antara rasa kehilangan tiba-tiba dan rasa bersalah yang teramat sangat. Mungkin melahirkan kesedihan yang memanjang entah sampai kapan.

Pada sebuah tragedi pesawat udara, dalam satu waktu seratus lebih cerita pedih terjadi. Seorang istri yang hamil tua harus menerima kabar suaminya tak akan pernah kembali lagi bersamanya. Tugas sebagai pramugara tidak mengijinkan suaminya pulang. Sang anak di kandungan tak akan pernah merasakan pelukan ayahnya. Itu satu cerita dari sekian banyak. terlalu menyesakkan kalau harus merasakan semua.

Kematian, yang kita tahu bisa datang kapan saja, dan nyatanya memang hadir setiap hari, tetaplah sesuatu yang tak mudah untuk kita terima. Mungkin karena kita tak pernah sungguh-sungguh berusaha memahaminya, menyadari keberadaannya yang niscaya. Mungkin karena bagi kita dia sebatas sebuah akhir saja, yang sering kita tuduh datang tidak pada waktunya dan menghentikan apa-apa yang kita harapkan masih berlanjut : kesenangan dunia, kebersamaan dengan orang-orang yang kita cintai, pengejaran sekian banyak obsesi dan cita-cita.

Jika pun kita membicarakan kematian atau diingatkan akan kematian oleh kejadian-kejadian, tanpa sadar kita lebih memusatkan perhatian pada bagaimana kematian itu terjadi, dan seperti apa rasa sakit yang dibawanya. Seperti kejadian-kejadian yang tadi saya tuliskan. Mungkin karena itu kita tak sungguh suka membicarakannya.

Akan baik rasanya jika kita lebih berupaya untuk memikirkan dan memahaminya. Somehow, kesadaran akan kematian saya rasa akan memungkinkan kita hidup lebih baik. Orang baru akan benar-benar terjaga dalam kehidupannya jika ia senantiasa sadar akan kematian. Masih harus terus memikirkan hal ini..

Jejak Bandung Masa Lalu

Bandung lahir di pangkuan cekungan lembah yang dikelilingi gunung gunung. Ke mana mata kita melihat, utara, selatan, barat, timur, ada gunung yang mengelilingi. Masyarakat dan budaya Bandung yang sesungguhnya adalah budaya mereka para petani di lembah dan lereng gunung gunung itu.

Namun Bandung menjadi dewasa di tengah kehadiran pendatang. Dengan sifat asli orang Sunda yang ramah dan terbuka, mudah menerima dan menyukai hal hal baru, dengan segala baik buruknya, Bandung kini berbeda dari Bandung masa lalu.

Maka, saat hati ini rindu akan jejak jejak damainya Bandung masa lalu, melihat ke selatan, ke ujung ujung pandangan, ke arah gunung gunung di selatan itu, adalah salah satu cara yang tersisa..

Silsilah : Hadirnya Figur Ayah di Tengah Keluarga

Sudah 3 hari kumpul bareng keluarga besar keturunan Arab di Ciamis, dengan sepupu yang jumlahnya hampir 50 orang, plus ipar, dll.. Mayoritas bin Amberik, tapi ada bin Badres, ada juga bin Djonkar, bin Basalamah, yang saling terhubung karena pernikahan.

Salah satu obrolan utama keturunan Arab sudah pasti tentang silsilah, leluhur, dan tali persaudaraan yang saling silang. 3 hari ini obrolan itu rutin saya ikuti. Beberapa sepupu dan ipar yang masih sangat kental darah Arabnya terus mengingatkan agar silsilah dan nama keluarga selalu dijaga, dipelihara, dan dilanjutkan. Lanjutkan membaca Silsilah : Hadirnya Figur Ayah di Tengah Keluarga

For Life Path Seeker