hari-hari yang berat

hari-hari ini.. masa yang tujuh tahun itu seperti memadat.. dalam gerakan waktu jam ke jam hari ke hari. semua seperti kilas balik yang deras dari masa remaja hingga kini–dan bahkan bayangan masa depan pun berkilasan membangkitkan harapan di tengah gelisah, cekam, dan keserbatakpastian.

ya, ini tentang tuntutan akademik yang tinggal selangkah itu–dan tak juga kunjung terpijak. langkah itu seperti tertahan oleh begitu banyak hal yang tidak sepenuhnya dimengerti, tak bisa diceritakan. sementara itu, satu satu temanku memberikan dorongan, penghormatan, doa.

dan juga sementara itu, aku hanya bisa mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa dalam hari-hari yang tak banyak lagi–seakan menjemput kematian–aku hanya perlu memastikan bahwa jiwaku menjalaninya dengan sepenuh kesantunan. tetap berusaha, mengisi jam demi jam, menjaga jarak tetap dekat pada Tuhan, memaksa diri bertahan dalam deraan, sambil tetap tak bisa memalingkan wajah dari kenyataan bahwa betapa banyak hal yang tidak bisa dikendalikan membentuk hari-hari seorang manusia–dan seakan menentukan nasibnya.

aku hanya ingin menemukan diriku, di ujung jalan nanti, berdiri menerima apa yang layak kuterima. dan ketika itu, nurani ini pun mengetahui bahwa sebagai seorang manusia dewasa, aku telah berusaha sekeras yang ku bisa untuk mewujudkan : di tengah kemerdekaan mengisi hidup–sebuah prinsip yang coba ku tanam dalam-dalam di diri ini–aku pun berusaha mengutuhkannya dengan menunaikan tanggungjawabku pada orang-orang yg sebagian sedih dan gembiranya disandarkan pada tindakan dan usaha-usahaku.

semua orang memang tak mau kecewa, dan karenanya tak ingin dikecewakan.

karena itu, semoga aku layak untuk menulis ini :

Saksikanlah, Aku akan menang!!!

Iklan

jaman berganti

beberapa hari lalu, saya diminta bicara sedikit tentang OSKM sejak 98-2003, di hadapan seratus dua ratus panitia lapangan. ceritanya mereka sedang diklat kemahasiswaan. Sebentar saja saya bicara.. tak lebih dari 20 menit. tapi dari momen itu, tersentak saya akan suatu rasa yang tiba-tiba masuk ke dada saya : betapa jaman sudah berganti, dan bahasa kami pun tlah berbeda.

keluarga

hari ini saya kembali ke tengah keluarga, walau cuma sebentar, walau cuma keluarga bibi. Di cimahi. Karena, ya itu, pemilu presiden. Dan saya terdaftar sebagai pemilih di tempat bibi.

BAnyak hal yang menarik di sana. Sepupu saya yang kemarin anak-anak, taunya sekarang sudah remaja. Bedanya keliatan banget. Lalu bermacam-macam cerita yang saya dengar tentang hidup masing-masing mereka. Sadarlah saya bahwa di tengah keluarga, ada hal-hal lain yang terasa–dan takkan pernah ditemui dalam kesendirian.

Kemudian rasa rindu untuk berada di tengah keluarga perlahan mengalir di dada.

Tapi, ada satu hal yang saya sadari. Keluarga yang saya rindukan adalah sebuah keluarga yang didalamnya, saya menjadi tonggak. Dan mungkin itu berarti sebuah keluarga yang lahir kala tiba saat saya menikah.

Ada yang mau menikah? 🙂

saya pikir ada baiknya saya bersegera. Toh, di depan, yang ada adalah hamparan luas kebebasan untuk membentuk masa depan. dan keluarga, membuat pilihan menjadi lebih mudah.

menimbang rencana masa depan

semoga keselamatan dan rahmat dariNya,

senantiasa menjadi udara yg mengalir dalam tarikan-tarikan nafas kita.

Hari-hari ini adalah awal dari sebuah akhir.

nyaris tujuh tahun hidup ditengah komitmen akademik–yang begitu kuasa memasang pagar tinggi-tinggi di sekeliling kebebasan saya untuk mengisi hari. Dan saat ini, satu demi satu pagar-pagar itu mulai tercabut. Lalu kebebasan kembali membentang–untuk sekali lagi memberikan pilihan-pilihan sulit.

Ya, tak lebih dari sebulan lagi, pagar-pagar itu akan rata dengan tanah. Apapun yg terjadi selama sebulan ini. sementara, masih ada beberapa pertanyaan yg mengisi ruang pikiran.

bagaimana harus berdamai dengan masa lalu, dan menyatu dengan masa kini.., sehingga masa depan adalah pencapaian yang langkah pertamanya dimulai pada hari ini?

Nyatanya saya harus menyerah dengan fakta bahwa apa yang telah terjadi di masa lalu, seberapapun saya kecewa akannya, sudah menjadi keabadian untuk saya. Dan toh, saya masih juga tidak bisa memahaminya. Saya menerimanya. hanya itu yang bisa dirasakan saat ini.

Mungkin dengan begitu, masa depan sudah dapat dimulai dari hari ini. Mungkin sudah saatnya memandang hidup sebagai apa yang ada digenggaman. Tapi, 🙂 masih ada tapi ternyata.

Ada saat di masa lalu, dimana sebuah cita-cita dipancangkan. Dengan semangat yang meledak-ledak. Dan kini, ada saat dimana nurani bertanya : apakah itu adalah suatu takdir, atau hanya sebuah lontaran naif dari jiwa remaja yang sedang belajar memahami harga dari kehidupan?

Jikalah itu suatu takdir, jalan apa yang akan mengantarkan manusia kecil ini ke sana?

Kalaulah itu hanya sebuah lontaran, jadi itu takdir siapa?

Nyatanya saya tidak pernah merasa yakin bahwa urusan saya dengan masa lalu sudah selesai–sebarapa pun saya berusaha menerimanya meski tak juga memahami dengan penuh.

Ah, maafkan.

Lanturan tak tentu arah ini tentu terdengar sangat “keakuan”. Seakan persoalan hidup hanyalah di sekitaran diri sendiri. Bahwa saya tak jua memahami bagaimana menanggung masa lalu.. mungkin itu yang ingin dituliskan di sini. Dan sambil berharap bahwa permakluman akan ada dengan tulus dari siapapun yang merasa–dan memang–berhak untuk menagih sesuatu dari masa lalu saya.

Yah.. masa depan akan dimulai dari hari ini.

Karena rasanya saya masih harus yakin bahwa Tuhan itu Maha Memahami kelemahan seorang hambaNya. Jikalah ada takdirNya yg hendak Ia jadikan pada diri ini, tentu akan ada jalan yang mengantarkan ke sana. Dan semoga pada titik itu, jejak langkah kita bisa kembali bertemu.

Entah kapan.

menyatu dengan semesta

di suatu masa kala remaja.. saya sering diajak keliling jawa tengah mengikuti tugas bapak. Di perjalanan.. hamparan hijau padi di sawah adalah salah satu pemandangan yang sering didapat. Sering juga bapak memutuskan untuk berhenti di daerah seperti itu.. sekedar untuk melepas penat perjalanan. Dalam ketenangan jalan kabupaten yang sepi.. di hadapan terhampar persawahan yang luas seakan tidak berujung.. hingga kaki bukit. Dalam saat-saat seperti itu.. keinginan yang menyeruak kuat dalam hati adalah.. betapa inginnya untuk saya dapat tenggelam di dalam hamparan hijau itu.. menyatu dengan alam, menyatu dengan semesta.

Rasa damai sekali jika demikian. Yah, hamparan itu memiliki kehidupan yang lurus, dan pasrah, tanpa banyak hasrat yang seringkali justru menyesakkan diri kita sendiri. Damai sekali.

Masa itu.. sudah lama berselang. Tapi sampai saat ini, keinginan itu tetap ada. Dan bahkan rasa itu seakan telah menjadi naluri. Suatu keinginan terdasar.

Menyatu dengan semesta. Suatu perjalanan menuju hakikat. Yang pada saat itu, kebenaran bukanlah lagi apa yang kita katakan dan perdebatkan. Saat itu, kebenaran adalah realita.. kebenaran adalah fakta.

Saat itu, saat diri ini menyatu dengan semesta.., saat itulah kita telah menyatu dan hidup dalam hakikat. Saat itu, diri ini telah berserah, ego telah runtuh berkalang tanah, diri ini penuh rindu kembali menyatu sebagai hambaNya, yang tidak lagi tertarik untuk mengingkari hakikat dan fitrah.

hhh.. Tuhan, betapa aku ingin pulang.

menimbang rencana masa depan

apa yang akan ada di benak kita saat terbentang masa depan yang luas.. seperti sebuah padang rumput tak berbatas.. dan kita bisa bermain disana sesuka hati.

Apa yang akan kita lakukan saat semuanya mungkin..

Seberapa senang dan takutnya kita menghadapi keserbamungkinan yang berbalut keserba-tak-terkiraan.

Dalam dua bulan ke depan.. urusan saya dengan ganesha 10 akan tuntas, suka ataupun tidak suka. Dan setelah itu.. itulah masa depan laiknya padang rumput.. begitu banyak kemungkinan.. begitu luas ruang pilihan.

Apa yang akan saya lakukan?

bersambung…

Insights along The Journey